Pak Arifin mengangkat telepon itu, dan memegangkan gagang telepon untukku, karena kedua tanganku sibuk menahan payudaraku menjepit penis si cvmSuwito. "Me, ini aku. Aku pulangnya masih ntar malaman lagi, soalnya tugasnya belum selesai nih", terdengar suara yang ternyata kakakku.
Dxmaqialam keadaan sedang disetubuhi, aku harus menjawab dengan nada yang sewajarnya supaya ia tak curiga yang macam macam, "Iya ko... jadi... kokyrtho.. pulang jam berapa.. nanti", tanyaku sedikit terputus putus karena Wawan terus menggenjotku tanpa ampun.
"Yaa, bentar lagi sih keliatantwnya sudah selesai, tapi setelah selesai aku dan yang lain mau pergi dulu, minum es bareng bareng. Yaa, anggap saja merayakan kecil kecilan. dxlmSulit lho ini tugasnya Kamu mau aku bawakan es juga me? Aku bungkuskan buat kamu ya?" tanya kakakku.
"Iya.. boleh ko... Jangan... terlalu svmymalam... ya... hati hati.. ko", kataku, semakin terputus putus karena si Wawan dengan kurang ajar meningkatkan kecepatannya dalam memompa vaginaku, bahkan saat menancap dalam ia sengaja membiarkan penisnya tertanam sedikit lebih lama, membuat gairah tubuhku semakin bergolak. Celaybplka, jangan sampai aku orgasme selagi telepon dengan kakakku nih.
"Ya, mungkin aku sampai rumah jam setengah 12 malam. Me, kamu kenapa? Sakit ta? Kok seperti ngos ngosan gitu?" tanya kakakku.
"Nggak... ko... Cuma... ingin... ke wc... sudah dulu.. ya ko", kataku sambil menyuruhrk pak Arifin meletakkan gagang telepon dengan bahasa isyarat, sementara nafasku makin memburu.
Begitu telepon tertutup, aku segera melepasumwxckan lenguhan yang sejak tadi kutahan tahan, dan aku langsung orgasme, kali ini lebih hebat dari yang pertama tadi. Tubuhku sedikit terlonjakvrf lonjak, kedua kakiku melejang lejang dan cairan cintaku keluar banyak sekali hingga membanjir membasahi penis Wawan. Aku memandangnya dengaiaxtn jengkel sekaligus penuh gairah, apalagi Wawan terus memompaku dengan kecepatan yang makin tinggi, membuat gairahku langsung bangkit walau sybaru orgasme hebat. Pak Arifin bertanya, "non, kakaknya non pulang jam berapa?". Aku berkata tetap dengan suara yang terputus putus, "Setengah..dua..belas.. pak".
Pak Arifin lalu keluar entah kemana, aku juga sudah tak perduli. Gila, stamina Wawan benar benar luar biasa, aku dibnbuatnya kewalahan. Sodokan demi sodokan seolah memompa gairahku meuju orgasme, dan luar biasa, aku sudah orgasme yang ketiga saat ini, dua kwtali akibat dipompa Wawan dengan ganas, sementara dia tak ada tanda tanda keluar. Jam sudah menunjuk waktu 19:35, sudah setengah jam aku dipozaikmpa Wawan, dan ia belum menunjukkan tanda tanda akan orgasme. Bahkan milik Suwito sudah berkedut, ia buru buru memasukkan penisnya ke dalam jucmulutku yang langsung mengulum rapat dan menyedot nyedot penisnya, membuat Suwito mengerang dan melenguh, spermanya menyemprot deras ke dalaeysnpm kerongkonganku. Rasanya sedikt lebih gurih dari 6 orang kemarin, atau aku yang sudah mulai menikmati minum sperma, aku juga tak tahu pastishcim. Penis Suwito terus kusedot sampai mengecil dan tak ada sisa sperma yang menempel sedikitpun.
Kini sementara aku tinggal menghadapi Wawagdfvn satu lawan satu. Tiba tiba Wawan dengan perkasa menarikku bangun, dan ia turun dari ranjang berdiri, dengan tetap memeluk pinggangku dan pzyqjbenis yang masih terus menancap erat dalam vaginaku, membuat aku takut terjatuh hingga melingkarkan betisku ke pinggangnya dan merangkul lehepunmfrnya erat. Wawan menggunakan kesempatan itu untuk melumat bibirku, sementara sodokan penisnya yang begitu kokoh bagaikan sebatang besi, terafhsa makin dalam menancap di vaginaku, membuatku semakin melayang layang, mengantarku mengalami multi orgasme di pelukan Wawan.
"Oooooh.... qokWaaaaan.... aaaa...duuuuh... e....naaaaak", erangku, tanpa terkendali aku mengejang ngejang susul menyusul di pelukan Wawan.
Kepalaku menergcngadah, pantatku terasa kejang tersentak sentak ke depan, cairan cintaku membanjir membasahi lantai kamarku, nafasku seperti orang yang habicgqbs lari berkilo kilo. Nikmat yang melandaku ini entahlah, mungkin setara dengan nikmat kemarin saat aku digangbang Girno, Urip dan Soleh. Namqxzpun Wawan melakukannya sendirian, membuatku kini memandangnya agak lain. Wajahnya memang tak karuan, penisnya juga tak terlalu besar dan tak lsthnterlalu panjang, tapi, penisnya memang luar biasa keras, dan kalo staminanya seperti ini, aku berpikir bisa bisa kelak aku yang mencarinya uuwsvcntuk memuaskanku. Aku benar benar sudah larut dalam permainan seks ini, rasanya aku sudah berubah dari cewek yang alim dan terpelajar, menjaskfjwdi cewek bispak!
Lamunanku buyar saat Wawan tiba tiba memelukku makin erat, sodokannya makin bertenaga, sementara tubuhnya terasa bergetaqzvxyr getar. Oh.. apakah akhirnya ia akan orgasme? Ia mulai melenguh, "heeegh.. non... E.....li......zaaaaaaa.....", sambil menjepit tubuhku dencmqugan pelukan yang menyesakkan dadaku, namun membuatku kembali orgasme kecil, menngiringi semprotan spermanya yang amat banyak di dalam vaginavrku. Wawan menaruhku di ranjangku, dan aku agak terbanting, untungnya ranjangku empuk. Ia terus menanamkan penisnya di dalam liang vaginaku, itjlalu menindih tubuhku hingga kakiku makin terkangkang lebar. Ia memagut bibirku dengan buas, membuat aku megap megap. Untungnya penisnya semioakin mengecil, dan dengan posisi tubuhku yang terlipat iini penisnya dengan cepat terlepas dari vaginaku. Cairan cintaku menghambur keluar cpacobukup banyak bercampur spermanya dan membasahi kedua pahaku ketika aku ditariknya berdiri. Ia memelukku dengan erat dan kembali memagut bibiryiku seolah aku ini kekasih yang sudah lama dirindukannya. Saat itu aku melihat jam sudah menunjuk pukul 20:10.
Edan. Ini berarti Wawan mengwvpgenjotku selama satu jam. Benar benar lelaki yang perkasa. Tiba tiba entah sejak kapan, aku melihat Sulikah dan pak Arifin sudah ada di kamazkrku, kelihatannya sejak lama, cukup lama untuk melihat aku menyerah dalam pelukan Wawan. Pak Arifin mendekat mengambil giliran. Aku masih tedzgqmrsengal sengal, ketika pak Arifin yang biasanya kalem ini dengan buas penisnya yang berukuran raksasa langsung diterjangkan ke vaginaku yangzkoba untungnya masih basah kuyup oleh campuran sperma Wawan dan cairan cintaku tadi, sehingga masih sangat licin.
"aaagh...aduh...oooh... heehlkgegh...auuuh...nngggh ", erangku berulang ulang tanpa daya ketika pak Arifin dengan bersemangat sekali memompa vaginaku yang langsung terasa lhzxpamat sakit seperti saat pertama Girno memompa vaginaku. Urat urat itu terasa begitu menggerinjal mengaduk aduk vaginaku. Rasa sakit yang nyawickaris tak tertahankan ini membuatku teringat sisa obat perangsang di tas sekolahku.
Aku meminta pak Arifin berhenti sebentar, dan minta tolosmnugng pada Sulikah untuk mengambilkan botol aqua yang isinya tinggal separuh itu di dalam tasku, yang langsung kuteguk habis begitu Sulikah memgmberikan padaku. Aku sempat melihat sekelilingku, Wawan duduk di sofa kamarku, sementara Suwito tiduran di lantai. Dan Sulikah kembali duduk xtuldi kursi meja riasku. Lalu aku mempersilakan pak Arifin untuk mulai memompa vaginaku begitu aku mulai merasa panas yang tak wajar menjalari butubuhku. Ya, obat perangsang itu mulai bekerja. Tanpa mampu mengendalikan diri, aku melayani pak Arifin dengan penuh nafsu, sakit yang tadinsmya melanda vaginaku sudah lenyap sama sekali berganti kenikmatan yang luar biasa dahsyat. Lenguhan, desahan dan erangan kami berdua memenuhirel kamarku, membuat siapa saja yang mendengar pasti bangkit gairahnya, termasuk Wawan dan Sulikah, yang aku lihat sudah saling memagut bibir dbsfwengan serunya, membuatku tak mau kalah dan menarik leher pak Arifin untuk kemudian kupagut bibirnya dengan ganas.
Sudah 15 menit pak Arifidnocen memompaku, entah aku sudah berapa kali melayang dalam orgasme, akhirnya pak Arifin melenguh panjang, menyemprotkan spermanya dalam liang vjbraginaku. Semprotan itu terasa begitu banyak dan kencang, rasanya mengenai bagian terdalam di liang vaginaku, mungkin menembus rahimku. Aku tnqxlergolek lemas dalam keadaan penuh nafsu, memandang Suwito yang harusnya sudah pulih karena ia yang pertama keluar tadi.
Suwito langsung ttsbanggap dan mendekatiku. Ia segera menusukkan penisnya ke dalam vaginaku, dan mulai memompa vagina yang sudah kehausan penis lelaki. Obat pervpkyangsang itu benar benar dahsyat, aku mencumbu Suwito dengan buas, membuat Wawan yang sudah bergairah tak tahan lagi dan mendekatiku. Suwito nkemengerti dan mendekapku erat lalu berbaring telentang hingga aku kini menindihnya. Dan Wawan menjilati anusku, mendatangkan sensasi aneh danmubcl luar biasa bagiku. Lidahnya terus mengorek ngorek anusku yang semakin lebar, kemudian ia menyuruhku meludahi penisnya yang disodorkan ke walonwjahku. Dalam kepasrahan kuturuti kemauannya, aku tahu ia akan segera membobol anusku. Tapi aku yang sudah terangsang hebat ini tak perduli. ufvDengan beberapa kali dorongan, akhirnya penis Wawan yang sudah amat licin itu menembus anusku, membuatku melolong panjang karena kesakitan. fvywuBagaimanapun, aku belum terbiasa anusku dibobol. Kini dalam keadaan disandwich, aku disodok sodok bergantian dari atas dan bawah, hingga akhtveirnya tak sampai 10 menit kemudian aku sudah orgasme, bersamaan dengan menyemprotnya sperma Suwito dalam liang vaginaku.
Dalam keadaan anuboctdsku masih tertancap penis Wawan, pak Arifin menggantikan posisi Suwito. Penisnya yang raksasa itu sudah menegang tegak, siap untuk kembali mwyzhcenyodok vaginaku dengan buas. Suwito menyodorkan penisnya ke wajahku dan aku tak perlu disuruh, segera kubersihkan sperma yang tertinggal difhit penis itu dengan mengulum ngulum dan menyedot nyedot penis itu hingga bersih, sementara pemiliknya melenguh lenguh keenakan, lalu roboh di cydepanku.
Birahiku yang semakin tinggi membuatku antara sadar dan tidak, dengan penuh nafsu melayani sodokan dua penis sekaligus di selangfmrskanganku. Kugerakkan tubuhku mengikuti irama sodokan itu, berulang ulang aku mencapai klimaks, sampai akhirnya pak Arifin orgasme duluan. Kiljdfni tinggal Wawan yang menyodomi aku dengan gencar, memang Wawan luar biasa.
Pak Arifin menyodorkan penisnya untuk kubersihkan, dan aku denmjodgan semangat mulai mengulum dan menyedot nyedot penis itu sampai mengecil, sementara Suwito sudah berada di bawahku, namun bukan untuk menikfimrdmati vaginaku, melainkan menyedot susuku yang tergantung karena kini aku dalam keadaan doggie style. Pak Arifin duduk dan melumat bibirku dervsangan bernafsu. Sulikah kulihat mulai bermasturbasi dengan mengaduk vaginanya dengan jarinya sendiri. Ia pasti terangsang hebat melihatku beggpjxitu pasrah dikeroyok oleh 2 orang rekannya ditambah sopirku. setengah jam kemudian Suwito sudah pulih, dan menusukkan penisnya ke vaginaku, yojzmembuat selangkanganku kembali terasa sesak membangkitkan gairahku, dan tak lama kemudian aku langsung orgasme hebat. Seolah bekerja sama dqratengan Wawan, mereka menusukkan senjatanya dalam dalam bersamaan dan berlama lama menahan penis mereka di sana, membuat aku melenguh lenguh thrcak kuasa menahan nikmat.
Aku sudah setengah sadar saat jam menunjuk pukul 22:15. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus mili liter caiaqjran cinta yang sudah diproduksi tubuhku selama 3 jam ini. Mereka bertiga bergantian memuaskanku, sampai akhirnya ambruk satu per satu di sekalmnkelilingku. Kondisiku sendiri tak lebih baik, tenagaku terasa terkuras habis. Untungnya aku besok masih sekolah siang. Ya, semester depan akupvced akan sekolah pagi. Yang jelas besok aku masih ada kesempatan bangun agak siang.
Deru nafas yang memburu bersahut sahutan di kamarku. Akuxgcf mulai sadar dari pengaruh obat perangsang tadi, dan bangkit menuju kamar mandiku dengan sempoyongan. Kukeluarkan sperma yang bisa aku keluawqtakrkan dari vaginaku dengan bantuan tangan dan siraman air shower. Aku mandi keramas menghapus sisa keringatku dan keringat mereka yang menempelcel di sekujur tubuhku, lalu mengeringkan tubuhku serta rambutku. Kemudian, masih telanjang bulat, aku kembali ke ranjangku yang masih awut adiywutan akibat "perang" yang baru terjadi. Wawan masih tergeletak di ranjangku, aku memintanya turun, karena aku harus mengganti sprei ranjangdauewku. Aku tak mau tidur dengan bau keringat, sperma dan cairan cinta di sekitarku. Dibantu Sulikah aku memasang sprei yang baru, sementara sprsipoei tadi dibawanya turun ke tempat cucian setelah ia pamit padaku untuk tidur. Sementara 3 begundal ini, aku masih ada urusan yang harus kubigbcarakan dengan mereka semua.
"Pak Arifin, Wawan dan Suwito. Sekali lagi, aku ingatkan, hal barusan ini hanya bisa terjadi jika kedua ortukgau dan kakakku tidak ada di rumah, juga jika aku tidak ada PR atau tugas ataupun ujian, juga pada saat aku tidak sedang mens. Di luar itu, jarcqngan coba coba memaksaku. Kalo ketahuan, selain kalian dipecat, aku sendiri juga bakal susah. Daripada hal yang sama sama merugikan kita sembsfmua terjadi, tolong kalian jangan berlaku ngawur. Kalian juga bisa menikmatiku, tapi kalian harus janji tak akan jajan di luar. Aku tak inginbp kena penyakit kelamin yang menular. Apa kalian mengerti?" tanyaku panjang lebar, yang dijawab mereka semua, "akuuuur...".
Lalu dengan larovdpngkah gontai karena sama sama kehabisan tenaga, mereka bertiga keluar dari kamarku menuju ke kamar masing masing. Tinggal aku sendiri yang mtuwfkenunggu kakakku pulang sambil merenung. Masih ada sejam lagi sebelum kakakku pulang, aku berpikir aku lebih baik tidur saja, toh kakakku bawpwyasa kunci pintu depan. Aku mengenakan baju tidur satin yang nyaman seperti kemarin, lalu mengistirahatkan tubuhku yang sudah amat kepayahan inwhi di atas ranjangku yang empuk.
Aku membayangkan, Jumat depan aku harus melayani 6 begundal kemarin. Apa lokasinya tetap di ruang UKS itu?hylmo Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika mereka gelap mata menyeretku ke mess yang dihuni sekitar 60 orang itu? Aku bisa apa? Apa mereka texhfktap mau melepaskan diriku seperti kemarin? Lalu, sampai kapan aku akan jadi budak seks kedua pembantu dan sopirku ini? Pertanyaan demi pertawzmsfnyaan menghiasi pikiranku, mengantarku tidur yang kali ini tak begitu nyenyak. Beberapa jam sekali aku mengalami mimpi buruk, dimana aku berlfada di tengah kerumunan 60 orang yang mengepung diriku hingga aku panik dan terbangun.
Oh... apakah ini tanda bahwa nanti aku benar benar harus melayani penghuni mess dimana Girno dan yang lain tinggal itu?
Tamat
Showing posts with label Sex Daun Muda. Show all posts
Showing posts with label Sex Daun Muda. Show all posts
Sunday, 29 July 2012
Gadis Pemuas Lelaki 6
Tapi, tak ada waktu untuk memikirkan orang lain, karena tubuhku sedang dijahili kedua pembantuku ini. Kurasakan mereka menyingkap etwselimutku, kemudian mulai meremasi payudaraku, membuatku hampir tak tahan untuk mendesah. Aku bertahan berpura pura tidur, selain wspljtakut mereka akan berbuat yang lebih jauh jika aku "terbangun", aku hanya berharap mereka akan menghentikan aktivitas mereka setellndah membuat cairan cintaku membanjir keluar, seperti tadi siang. Duh, mana aku masih memakai stocking dan celana dalam yang ketat ltgagi. Mereka terus meremasi payudaraku dan nafas mereka semakin memburu, tampaknya mereka sudah terbakar nafsu. Sementara aku berusacaha keras meredam gairahku yang mulai naik, dengan cara membayangkan wajah orang yang sangat jelek.
Celakanya, mereka melanjutkazgjdqn remasan di payudaraku dengan rabaan pada perutku, kemudian dengan nakal mereka bergantian menekan nekan vaginaku yang masih tertzfosutup 4 lapis pakaian, celana dalam, stocking, gaun baletku serta blus biru terusan yang sampai ke lutut. Lalu mereka menarik bluskckju sampai ke pinggangku. Agak kesulitan juga mereka, karena blusku yang memang agak ketat, juga posisiku yang tiduran. Kemudian gauoun baletku juga mereka singkapkan, sehingga pertahanan vaginaku tinggal stocking dan celana dalamku. Dalam hati aku berkata, awas sjchaja kalau mereka berani menyobek stockingku, gaji mereka akan kupotong! Stockingku ini mahal harganya, dan aku Cuma punya sedikit.mew Tiba tiba aku mengejang, menahan geli saat vaginaku kembali ditekan tekan. Kini tekanan itu lebih terasa, karena tinggal stockingiq dan celana dalam ketat saja yang melindungi vaginaku dari tangan jahil mereka.
Kudengar nafas mereka yang makin memburu, dan Sqhyuwito bertanya pada Wawan, "Wan, gimana nih, kali ini ribet nih pakaian si non ini. Apa jangan jangan ia tahu akan dikerjain lagi?tn". Wawan tertawa kecil.
"Aku rasa tidak mungkin To. Kalo nona kita ini tahu tadi ada yang ngerjain dia, pasti dia marah. Tenang mesaja To, gula yang non Eliza ambil tadi itu kan gula buat aku, yang sudah aku campurin obat tidur dosis tinggi. Tahu kan aku susaharygt tidur, dan suka minum yang manis? Tapi nona kita yang ayu ini lagi sial kali. Sesuai kebiasaannya, non Eliza ini kan suka minum snwvtpusu. Dan gula tadi itu membuat dia sekarang dia pasti sedang dalam pengaruh obat tidur seperti tadi siang. Dan, sekarang waktunya toqnon Eliza untuk menyusui kita berdua nih", katanya sok yakin sambil meremas payudaraku dengan keras, membuat aku sedikit mengerutkexnban mukaku menahan sakit. Hmm, untung aku tadi minum susu tanpa gula sebelum balet.
Ternyata kantukku tadi siang yang sudah kudugerzxa tidak sewajarnya ini, gara gara gula yang bercampur obat tidur itu. Sekarang keputusan ada di tanganku. Aku bangun untuk menghenpuhtikan kekurang ajaran mereka berdua ini, atau meneruskan aksi pura pura tidurku sampai mereka puas. Setelah berpikir sambil menahakfan gairahku yang semakin naik, aku putuskan aku harus bangun, tanpa memberitahukan kalau tadi aku minum susu tanpa gula. Aku pikir luytkjika gairahku sudah tak tertahankan dan aku mulai melenguh, gawat juga.
Maka perlahan aku menggeliat pura pura akan terbangun, nwzberharap mereka terkejut dan kabur. Tapi mereka masih dengan penuh percaya diri menganggap aksi mereka aman aman saja karena aku mrtoasih dalam pengaruh obat tidur, meneruskan aktifitas mereka meraba raba dan menekan nekan vaginaku serta meremasi payudaraku. Kelirhxsohatannya tak ada pilihan lain, aku harus bangun dan "memergoki" mereka menjahiliku. Maka aku pura pura baru tersadar dan merintih lunspelan, "oh.. siapa kalian... apa yang kalian lakukan di kamarku? Kalian.. emmmph... emmmph..."
Wawan yang panic membekap mulutku fqdengan telapak tangannya yang lebar, sementara Suwito yang juga panik memandangku dan Wawan bergantian. Wawan membentak kecil, "Tokxchl! Goblok! Bantu aku cepat!!".
Sama seperti aku, Suwito juga terlihat bingung dan bertanya "Bantu apanya Wan?".
"Cepat ikat nonqe Eliza, dasar goblok! Lu mau kita celaka?", bentak Wawan lagi walaupun suaranya dipelankan, pasti karena takut kedengaran Sulikah bcoatdan pak Arifin. Suwito cepat cepat keluar mengambil tali jemuran, kemudian segera kembali. Aku yang mulai meronta ronta menyadari cobahaya ini, ditindih oleh Wawan yang memang badannya besar sekali hingga ku tak berkutik. Bau keringatnya membuatku mual, mengenduylkqprkan rontaan kakiku dan memudahkan Suwito merentangkan kakiku lalu mengikat kedua pergelangan kakiku pada ujung ujung ranjangku. Kjbnemudian tangan kananku ditariknya kuat dan diikat ke ujung ranjang. Aku sudah hampir tak berdaya, tangan kiriku menggapai gapai nawamun segera ditangkap dan seperti tangan kananku, ditarik dan diikat erat di ujung kepala ranjangku satunya.
Kini keadaanku sudavph mirip seperti saat pertama aku ditangkap di UKS kemarin. Bedanya, kini mereka cuma berdua, dan aku masih menebak nebak, ancaman ohapa yang akan mereka turunkan padaku. Dengan cekatan Wawan melepaskan bekapannya pada mulutku, tapi langsung menyumpal mulutku denoamgzgan sapu tangannya. Aduh, rasanya benar benar tak karuan, membuatku ingin muntah, tapi kutahan sekuatnya. Kini aku hanya bisa menabnwktap Wawan penuh kemarahan namun juga ada rasa takut yang menghinggapiku ketika ia mengancamku.
"Non Eliza, jangan memaksa kami uqhfntuk melakukan hal yang tidak tidak. Kalo non Eliza berteriak hingga mengundang Sulikah dan pak Arifin ke sini, kami bisa membuat nomereka berdua pingsan, lalu menculik non dan menjadikan non budak seks kami untuk selamanya. Non Eliza mengerti?", bentak Wawan, lpukfgagi lagi dengan suara pelan. Dengan pasrah aku mengangguk. Kemudian Wawan dengan kasar melepaskan sumpalan pada mulutku, membuatkukel terbatuk batuk, hampir saja bibirku yang bawah terluka karena terhantam gigiku sendiri.
"Duh Wan, jangan kasar dong", aku sedikodwit membentak karena jengkel sekali. Belum pernah sebelumnya aku membentak para pembantuku. "Kalian ini kurang ajar betul ya. Aku ikyni sudah berbaik hati tidak akan memperpanjang kalian berbuat mesum di dalam rumah ini, tapi sekarang kalian malah berbuat mesum tgmqerhadapku. Ya sudah, mulai hari ini kalian bisa menikmati tubuhku kalau di rumah tidak ada papa mama dan kakakku, saat aku tidak sahedang mens, dan aku sedang senggang, yaitu waktu aku tak ada PR, tugas, maupun ujian. tapi jangan kasar kasar. Juga jangan sampai vnkalian melukai aku ya. Awas kalau kalian berani menyakitiku!", aku mengancam balik.
Mereka saling pandang, kemudian seolah tak oklripercaya dengan pendengaran mereka, mereka bertanya dengan ragu, "mulai hari ini?". Dengan ketus aku menjawab, "Iya. Mulai hari inizivkn! Kalian ini munafik ya. Aku tahu kalian pasti akan berusaha memperkosaku lagi di lain waktu. Daripada nanti kalian mengikatku, meoisumbekapku dan lain lain, itu tidak perlu. Sekarang lepaskan ikatanku. Sangat tidak nyaman tau!". Mereka terlihat ragu ragu. Wawan biojerkata "Wah gimana ya, kalo non kami lepaskan, apa jaminan ...", yang langung kupotong "Aku janji aku akan layani kalian. Toh aku aysudah tidak perawan lagi, jadi buatku tidak ada ruginya. Asal kalian juga berjanji, tak akan main di kompleks pelacuran. Aku takutlvm terkena penyakit kelamin menular. Kalian mengerti? Sekarang lekas, buka ikatan ini. Aku mau mandi dulu!". Mereka melepaskan ikataashdunku, dan memandangiku dengan ragu ragu. Dengan kesal aku membuka semua pakaianku di depan mereka. "Nih. Kalo gak percaya, main ajatva denganku sekarang!", tantangku. Mereka meneguk ludah melihat tubuh indahku yang terpampang polos di hadapan mereka, kemudian merewiuka saling mengangguk, dan Wawan berkata, "baik non, kami percaya. Sekarang bagaimana?". Aku berkata, "Aku mau mandi dulu, gerah niojcbh abis latihan balet. Kalian juga, mandi semua sana. Baunya gak enak tau! Oh iya, ajak pak Arifin sekalian, biar adil. Terus mintalmzj Sulikah supaya berjaga, kalau kalau kakakku pulang".
Aku masuk ke kamar mandi, dan menyemprot tubuhku dengan air hangat, memperkesiapkan diriku yang akan segera digangbang lagi hari ini. Sebenarnya solusi ini menyebalkan juga, tapi aku pikir lebih baik aku mexklvngalah. Seperti yang sudah kukatakan tadi, toh aku sudah tak perawan lagi, dan aku tak ingin tiba tiba disergap, diikat tak karuanmik, bajuku terobek, disakiti dan merasa diperkosa.
Tiba tiba pintu kamar mandiku terbuka, dan masuk Suwito, Wawan dan pak Arifin hryang sudah telanjang bulat.
"Non Eliza, kita mandi sama sama saja ya", kata Wawan.
"Aduh, masa sudah segitu tak sabar sih? Ya bmcpsudah cepat. Nanti keburu kokoku pulang", kataku.
Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan memandikanku. Kedua tanganku diangkacuwat oleh Wawan yang memang jauh lebih tinggi dariku. Yang lain menyabuni tubuhku dengan penuh semangat, terutama di bagian payudarawh dan vaginaku. Setelah selesai menyabuniku, mereka membilas tubuhku sampai bersih, dan menggiringku ke ranjang. Aku berkata, "Tunnrzfggu, aku keringkan badanku dulu. Dan kalian, mandi dulu sana! Supaya tak terlalu bau nanti waktu main!". Mereka menuruti permintaabtqmwnku, mandi sebersih bersihnya dengan sabunku. Untung saja, sebab aku teringat waktu di UKS kemarin sebenarnya aku tak tahan dengangruze bau mereka berenam, tapi nafsu birahi yang menguasaiku membuatku mampu bertahan.
Dan kini mereka tak lagi berbau tak enak seperawnti tadi, dan aku yang sudah selesai mencuci mukaku di wastafel kamarku, dan mengeringkan tubuhku, tidur telentang di ranjangku dalhaam keadaan telanjang bulat, Aku sempat melihat jam, pukul 19:00. Mereka langsung mengeringkan tubuh ala kadarnya, dan menyerbuku ycxnftang sudah tersaji polos di atas ranjangku. Wawan mendapat jatah vaginaku, sementara Suwito dan pak Arifin mendapat jatah kedua payvnyudaraku. Wawan menjilati vaginaku yang katanya wangi, sementara Suwito dan Pak Arifin menyusu pada kedua payudaraku sambil meremasahz remas cukup keras. Dan aku? Tentu saja birahi yang hebat segera melandaku, aku mengerang, mendesah dan menggeliat keenakan.
Dekslngan penuh nafsu Wawan terus menjilat bahkan mencucup vaginaku. Perlahan tapi pasti, cairan cinta mulai mengalir membasahi dindingrwg vaginaku, yang segera diseruput oleh Wawan dengan rakusnya. Aku sampai menggelinjang kegelian, tanpa sadar kedua tanganku menggenluzfkggam sprei menahan nikmat yang kurasakan sekarang ini. Desahan nafasku semakin hebat ketika Wawan menusukkan lidahnya ke dalam vagbcginaku. Sedangkan pak Arifin dan Suwito semakin bernafsu menyusu ke payudaraku, akhirnya setelah 5 menit aku menggeliat dan mengejapxlqng, orgasme melandaku. Cairan cintaku mengalir banyak keluar, sehingga Wawan kelabakan tak mampu membendung Walaupun tak sedahsyatsfcrp kemarin, tapi sudah cukup untuk membuat nafasku tersengal sengal, seluruh tubuhku berkeringat dan terasa semakin lelah, terutama ehbetisku yang terasa semakin pegal, mungkin karena terlalu sering mengejang dua hari ini, reaksi saat orgasme melandaku.
Kini Wawixan sudah mengambil posisi di selangkanganku, membuat aku memperhatikan, penis seperti apa yang akan segera memompa vaginaku ini. taohernyata penis Wawan tak sebesar dugaanku, paling tak sampai 20 cm, mungkin sekitar 18 cm. Dan diameternya pun mungkin hanya sekecijeul penis pak Edy, wali kelasku yang aku duga hampir impoten itu. Aku jadi sedikit tenang dan tidak kuatir mengalami sakit yang berloariebihan seperti ketika aku dipompa Girno kemarin. Namun aku sedikit bertanya tanya, apa kenikmatan yang aku dapat hari ini akan setphara dengan yang aku dapat kemarin? Aku jadi ingin tahu, penis siapa di antara mereka bertiga ini yang paling besar. "He, kalian diwzkram dulu, jangan membuat non Eliza mulet mulet, aku mau memasukkan punyaku dulu", seru Wawan yang kesulitan menusukkan penisnya karwopunena dari tadi aku menggeliat keenakan saat putingku disedot sedot oleh mereka berdua ini.
Mereka berdua pun diam, ikut memperhashwitikan proses penetrasi penis Wawan ke anak majikannya ini. Clep, demikian bunyi tusukan yang menenggelamkan kepala penis itu dalamiw liang vaginaku, membuatku sedikit mengejang saat menerima tusukan itu. Penis ini terasa begitu keras, dan terus menusuk dalam, taulhndpi rasanya tak akan sampai menyentuh dinding rahimku. Wawan melenguh kencang, "ooouuuugh... heeeeghh...", sementara aku menggigit rcbibir merasakan sedikit sakit yang bercampur sedikit nikmat.
kemudian Wawan mulai bergerak memompa vaginaku, membuat rasa nikmathopa menjalari sekujur tubuhku. Aku menggeliat pasrah, sementara kedua rekannya yang ikut terbakar nafsu, meminta pelayanan yang lebihpstcw dariku. Suwito menaiki perutku, dan meletakkan penisnya di tengah payudaraku. Aku dipaksa merapatkan kedua susuku dengan kedua taztxgunganku hingga menjepit penis itu, lalu ia mulai menggesek gesekkan penisnya yang juga tak terlalu panjang, dan tak terlalu lebar jqcguga diameternya, di antara lipatan buah dadaku.
Lalu pak Arifin menyodorkan penisnya ke wajahku, yang membuatku tertegun. Nyarishbwek sebesar punya Girno, hanya yang ini lebih berurat. Dengan ragu aku mengulum penis pak Arifin, yang tentu saja tak muat dalam mulueyntku yang mungil ini. Tiba tiba telepon di kamarku berdering, dan pak Arifin melepaskan penisnya dari mulutku, mengambil telepon itjou dan mendekatkan padaku. Sementara Wawan dan Suwito dengan cueknya meneruskan aktivitasnya. Wawan terus memompa vaginaku dan Suwito terus menikmati jepitan payudaraku pada penisnya.
Bersambung . . . .
Celakanya, mereka melanjutkazgjdqn remasan di payudaraku dengan rabaan pada perutku, kemudian dengan nakal mereka bergantian menekan nekan vaginaku yang masih tertzfosutup 4 lapis pakaian, celana dalam, stocking, gaun baletku serta blus biru terusan yang sampai ke lutut. Lalu mereka menarik bluskckju sampai ke pinggangku. Agak kesulitan juga mereka, karena blusku yang memang agak ketat, juga posisiku yang tiduran. Kemudian gauoun baletku juga mereka singkapkan, sehingga pertahanan vaginaku tinggal stocking dan celana dalamku. Dalam hati aku berkata, awas sjchaja kalau mereka berani menyobek stockingku, gaji mereka akan kupotong! Stockingku ini mahal harganya, dan aku Cuma punya sedikit.mew Tiba tiba aku mengejang, menahan geli saat vaginaku kembali ditekan tekan. Kini tekanan itu lebih terasa, karena tinggal stockingiq dan celana dalam ketat saja yang melindungi vaginaku dari tangan jahil mereka.
Kudengar nafas mereka yang makin memburu, dan Sqhyuwito bertanya pada Wawan, "Wan, gimana nih, kali ini ribet nih pakaian si non ini. Apa jangan jangan ia tahu akan dikerjain lagi?tn". Wawan tertawa kecil.
"Aku rasa tidak mungkin To. Kalo nona kita ini tahu tadi ada yang ngerjain dia, pasti dia marah. Tenang mesaja To, gula yang non Eliza ambil tadi itu kan gula buat aku, yang sudah aku campurin obat tidur dosis tinggi. Tahu kan aku susaharygt tidur, dan suka minum yang manis? Tapi nona kita yang ayu ini lagi sial kali. Sesuai kebiasaannya, non Eliza ini kan suka minum snwvtpusu. Dan gula tadi itu membuat dia sekarang dia pasti sedang dalam pengaruh obat tidur seperti tadi siang. Dan, sekarang waktunya toqnon Eliza untuk menyusui kita berdua nih", katanya sok yakin sambil meremas payudaraku dengan keras, membuat aku sedikit mengerutkexnban mukaku menahan sakit. Hmm, untung aku tadi minum susu tanpa gula sebelum balet.
Ternyata kantukku tadi siang yang sudah kudugerzxa tidak sewajarnya ini, gara gara gula yang bercampur obat tidur itu. Sekarang keputusan ada di tanganku. Aku bangun untuk menghenpuhtikan kekurang ajaran mereka berdua ini, atau meneruskan aksi pura pura tidurku sampai mereka puas. Setelah berpikir sambil menahakfan gairahku yang semakin naik, aku putuskan aku harus bangun, tanpa memberitahukan kalau tadi aku minum susu tanpa gula. Aku pikir luytkjika gairahku sudah tak tertahankan dan aku mulai melenguh, gawat juga.
Maka perlahan aku menggeliat pura pura akan terbangun, nwzberharap mereka terkejut dan kabur. Tapi mereka masih dengan penuh percaya diri menganggap aksi mereka aman aman saja karena aku mrtoasih dalam pengaruh obat tidur, meneruskan aktifitas mereka meraba raba dan menekan nekan vaginaku serta meremasi payudaraku. Kelirhxsohatannya tak ada pilihan lain, aku harus bangun dan "memergoki" mereka menjahiliku. Maka aku pura pura baru tersadar dan merintih lunspelan, "oh.. siapa kalian... apa yang kalian lakukan di kamarku? Kalian.. emmmph... emmmph..."
Wawan yang panic membekap mulutku fqdengan telapak tangannya yang lebar, sementara Suwito yang juga panik memandangku dan Wawan bergantian. Wawan membentak kecil, "Tokxchl! Goblok! Bantu aku cepat!!".
Sama seperti aku, Suwito juga terlihat bingung dan bertanya "Bantu apanya Wan?".
"Cepat ikat nonqe Eliza, dasar goblok! Lu mau kita celaka?", bentak Wawan lagi walaupun suaranya dipelankan, pasti karena takut kedengaran Sulikah bcoatdan pak Arifin. Suwito cepat cepat keluar mengambil tali jemuran, kemudian segera kembali. Aku yang mulai meronta ronta menyadari cobahaya ini, ditindih oleh Wawan yang memang badannya besar sekali hingga ku tak berkutik. Bau keringatnya membuatku mual, mengenduylkqprkan rontaan kakiku dan memudahkan Suwito merentangkan kakiku lalu mengikat kedua pergelangan kakiku pada ujung ujung ranjangku. Kjbnemudian tangan kananku ditariknya kuat dan diikat ke ujung ranjang. Aku sudah hampir tak berdaya, tangan kiriku menggapai gapai nawamun segera ditangkap dan seperti tangan kananku, ditarik dan diikat erat di ujung kepala ranjangku satunya.
Kini keadaanku sudavph mirip seperti saat pertama aku ditangkap di UKS kemarin. Bedanya, kini mereka cuma berdua, dan aku masih menebak nebak, ancaman ohapa yang akan mereka turunkan padaku. Dengan cekatan Wawan melepaskan bekapannya pada mulutku, tapi langsung menyumpal mulutku denoamgzgan sapu tangannya. Aduh, rasanya benar benar tak karuan, membuatku ingin muntah, tapi kutahan sekuatnya. Kini aku hanya bisa menabnwktap Wawan penuh kemarahan namun juga ada rasa takut yang menghinggapiku ketika ia mengancamku.
"Non Eliza, jangan memaksa kami uqhfntuk melakukan hal yang tidak tidak. Kalo non Eliza berteriak hingga mengundang Sulikah dan pak Arifin ke sini, kami bisa membuat nomereka berdua pingsan, lalu menculik non dan menjadikan non budak seks kami untuk selamanya. Non Eliza mengerti?", bentak Wawan, lpukfgagi lagi dengan suara pelan. Dengan pasrah aku mengangguk. Kemudian Wawan dengan kasar melepaskan sumpalan pada mulutku, membuatkukel terbatuk batuk, hampir saja bibirku yang bawah terluka karena terhantam gigiku sendiri.
"Duh Wan, jangan kasar dong", aku sedikodwit membentak karena jengkel sekali. Belum pernah sebelumnya aku membentak para pembantuku. "Kalian ini kurang ajar betul ya. Aku ikyni sudah berbaik hati tidak akan memperpanjang kalian berbuat mesum di dalam rumah ini, tapi sekarang kalian malah berbuat mesum tgmqerhadapku. Ya sudah, mulai hari ini kalian bisa menikmati tubuhku kalau di rumah tidak ada papa mama dan kakakku, saat aku tidak sahedang mens, dan aku sedang senggang, yaitu waktu aku tak ada PR, tugas, maupun ujian. tapi jangan kasar kasar. Juga jangan sampai vnkalian melukai aku ya. Awas kalau kalian berani menyakitiku!", aku mengancam balik.
Mereka saling pandang, kemudian seolah tak oklripercaya dengan pendengaran mereka, mereka bertanya dengan ragu, "mulai hari ini?". Dengan ketus aku menjawab, "Iya. Mulai hari inizivkn! Kalian ini munafik ya. Aku tahu kalian pasti akan berusaha memperkosaku lagi di lain waktu. Daripada nanti kalian mengikatku, meoisumbekapku dan lain lain, itu tidak perlu. Sekarang lepaskan ikatanku. Sangat tidak nyaman tau!". Mereka terlihat ragu ragu. Wawan biojerkata "Wah gimana ya, kalo non kami lepaskan, apa jaminan ...", yang langung kupotong "Aku janji aku akan layani kalian. Toh aku aysudah tidak perawan lagi, jadi buatku tidak ada ruginya. Asal kalian juga berjanji, tak akan main di kompleks pelacuran. Aku takutlvm terkena penyakit kelamin menular. Kalian mengerti? Sekarang lekas, buka ikatan ini. Aku mau mandi dulu!". Mereka melepaskan ikataashdunku, dan memandangiku dengan ragu ragu. Dengan kesal aku membuka semua pakaianku di depan mereka. "Nih. Kalo gak percaya, main ajatva denganku sekarang!", tantangku. Mereka meneguk ludah melihat tubuh indahku yang terpampang polos di hadapan mereka, kemudian merewiuka saling mengangguk, dan Wawan berkata, "baik non, kami percaya. Sekarang bagaimana?". Aku berkata, "Aku mau mandi dulu, gerah niojcbh abis latihan balet. Kalian juga, mandi semua sana. Baunya gak enak tau! Oh iya, ajak pak Arifin sekalian, biar adil. Terus mintalmzj Sulikah supaya berjaga, kalau kalau kakakku pulang".
Aku masuk ke kamar mandi, dan menyemprot tubuhku dengan air hangat, memperkesiapkan diriku yang akan segera digangbang lagi hari ini. Sebenarnya solusi ini menyebalkan juga, tapi aku pikir lebih baik aku mexklvngalah. Seperti yang sudah kukatakan tadi, toh aku sudah tak perawan lagi, dan aku tak ingin tiba tiba disergap, diikat tak karuanmik, bajuku terobek, disakiti dan merasa diperkosa.
Tiba tiba pintu kamar mandiku terbuka, dan masuk Suwito, Wawan dan pak Arifin hryang sudah telanjang bulat.
"Non Eliza, kita mandi sama sama saja ya", kata Wawan.
"Aduh, masa sudah segitu tak sabar sih? Ya bmcpsudah cepat. Nanti keburu kokoku pulang", kataku.
Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan memandikanku. Kedua tanganku diangkacuwat oleh Wawan yang memang jauh lebih tinggi dariku. Yang lain menyabuni tubuhku dengan penuh semangat, terutama di bagian payudarawh dan vaginaku. Setelah selesai menyabuniku, mereka membilas tubuhku sampai bersih, dan menggiringku ke ranjang. Aku berkata, "Tunnrzfggu, aku keringkan badanku dulu. Dan kalian, mandi dulu sana! Supaya tak terlalu bau nanti waktu main!". Mereka menuruti permintaabtqmwnku, mandi sebersih bersihnya dengan sabunku. Untung saja, sebab aku teringat waktu di UKS kemarin sebenarnya aku tak tahan dengangruze bau mereka berenam, tapi nafsu birahi yang menguasaiku membuatku mampu bertahan.
Dan kini mereka tak lagi berbau tak enak seperawnti tadi, dan aku yang sudah selesai mencuci mukaku di wastafel kamarku, dan mengeringkan tubuhku, tidur telentang di ranjangku dalhaam keadaan telanjang bulat, Aku sempat melihat jam, pukul 19:00. Mereka langsung mengeringkan tubuh ala kadarnya, dan menyerbuku ycxnftang sudah tersaji polos di atas ranjangku. Wawan mendapat jatah vaginaku, sementara Suwito dan pak Arifin mendapat jatah kedua payvnyudaraku. Wawan menjilati vaginaku yang katanya wangi, sementara Suwito dan Pak Arifin menyusu pada kedua payudaraku sambil meremasahz remas cukup keras. Dan aku? Tentu saja birahi yang hebat segera melandaku, aku mengerang, mendesah dan menggeliat keenakan.
Dekslngan penuh nafsu Wawan terus menjilat bahkan mencucup vaginaku. Perlahan tapi pasti, cairan cinta mulai mengalir membasahi dindingrwg vaginaku, yang segera diseruput oleh Wawan dengan rakusnya. Aku sampai menggelinjang kegelian, tanpa sadar kedua tanganku menggenluzfkggam sprei menahan nikmat yang kurasakan sekarang ini. Desahan nafasku semakin hebat ketika Wawan menusukkan lidahnya ke dalam vagbcginaku. Sedangkan pak Arifin dan Suwito semakin bernafsu menyusu ke payudaraku, akhirnya setelah 5 menit aku menggeliat dan mengejapxlqng, orgasme melandaku. Cairan cintaku mengalir banyak keluar, sehingga Wawan kelabakan tak mampu membendung Walaupun tak sedahsyatsfcrp kemarin, tapi sudah cukup untuk membuat nafasku tersengal sengal, seluruh tubuhku berkeringat dan terasa semakin lelah, terutama ehbetisku yang terasa semakin pegal, mungkin karena terlalu sering mengejang dua hari ini, reaksi saat orgasme melandaku.
Kini Wawixan sudah mengambil posisi di selangkanganku, membuat aku memperhatikan, penis seperti apa yang akan segera memompa vaginaku ini. taohernyata penis Wawan tak sebesar dugaanku, paling tak sampai 20 cm, mungkin sekitar 18 cm. Dan diameternya pun mungkin hanya sekecijeul penis pak Edy, wali kelasku yang aku duga hampir impoten itu. Aku jadi sedikit tenang dan tidak kuatir mengalami sakit yang berloariebihan seperti ketika aku dipompa Girno kemarin. Namun aku sedikit bertanya tanya, apa kenikmatan yang aku dapat hari ini akan setphara dengan yang aku dapat kemarin? Aku jadi ingin tahu, penis siapa di antara mereka bertiga ini yang paling besar. "He, kalian diwzkram dulu, jangan membuat non Eliza mulet mulet, aku mau memasukkan punyaku dulu", seru Wawan yang kesulitan menusukkan penisnya karwopunena dari tadi aku menggeliat keenakan saat putingku disedot sedot oleh mereka berdua ini.
Mereka berdua pun diam, ikut memperhashwitikan proses penetrasi penis Wawan ke anak majikannya ini. Clep, demikian bunyi tusukan yang menenggelamkan kepala penis itu dalamiw liang vaginaku, membuatku sedikit mengejang saat menerima tusukan itu. Penis ini terasa begitu keras, dan terus menusuk dalam, taulhndpi rasanya tak akan sampai menyentuh dinding rahimku. Wawan melenguh kencang, "ooouuuugh... heeeeghh...", sementara aku menggigit rcbibir merasakan sedikit sakit yang bercampur sedikit nikmat.
kemudian Wawan mulai bergerak memompa vaginaku, membuat rasa nikmathopa menjalari sekujur tubuhku. Aku menggeliat pasrah, sementara kedua rekannya yang ikut terbakar nafsu, meminta pelayanan yang lebihpstcw dariku. Suwito menaiki perutku, dan meletakkan penisnya di tengah payudaraku. Aku dipaksa merapatkan kedua susuku dengan kedua taztxgunganku hingga menjepit penis itu, lalu ia mulai menggesek gesekkan penisnya yang juga tak terlalu panjang, dan tak terlalu lebar jqcguga diameternya, di antara lipatan buah dadaku.
Lalu pak Arifin menyodorkan penisnya ke wajahku, yang membuatku tertegun. Nyarishbwek sebesar punya Girno, hanya yang ini lebih berurat. Dengan ragu aku mengulum penis pak Arifin, yang tentu saja tak muat dalam mulueyntku yang mungil ini. Tiba tiba telepon di kamarku berdering, dan pak Arifin melepaskan penisnya dari mulutku, mengambil telepon itjou dan mendekatkan padaku. Sementara Wawan dan Suwito dengan cueknya meneruskan aktivitasnya. Wawan terus memompa vaginaku dan Suwito terus menikmati jepitan payudaraku pada penisnya.
Bersambung . . . .
Gadis Pemuas Lelaki 5
Hari ini, di luar kebiasaanku, aku bangun agak telat, sekitar jam 7:30. Itu pun karena sinar matahari yang terangxdpo menerpaku dari kaca jendela, yang gordennya lupa kututup tadi malam. Saat ini rumahku pasti sedang sepi, tinggalgnx Siti dan Sulikah, 2 pembantu wanita di rumahku. Keduanya berumur 20 tahun. Juga Suwito yang berumur 25 tahun, dajcbgn Wawan yang berumur 24 tahun, 2 pembantu laki laki di rumahku. Juga ada pak Arifin yang berumur 45 tahun, sopir pxdagyang setia mengantarku sejak aku masih kecil. Kedua ortuku masih ada di luar negeri. Dan aku ingat, kakakku mengiedgnap di rumah temannya, mengerjakan tugas kelompok kuliahnya yang harus menggunakan komputer. Juga aku baru ingat,irvlm Siti sedang pulang kampung, untuk mengurus KTPnya yang sudah hampir habis masa berlakunya.
Dengan malas aku bavdngkit menuju kamar mandi, menyalakan shower dan mandi sambil mengingat ingat kegilaanku kemarin, membuatku sedikiqgxt tersenyum malu saat aku menyikat gigiku. Setelah selesai aku mengeringkan tubuhku dan mengenakan baju santai. Kusjvtarena bangun kesiangan, aku yang biasanya ke gereja jam 8 pagi, terpaksa datang ke sesi 9:30 nanti karena sekaranrcg sudah jam 8 lebih dan masih ada waktu sekitar satu jam buatku sebelum pergi. Setelah itu, jadwal kegiatanku adawilah latihan balet di ******* jam 5 nanti, dan aku harus berangkat setengah jam sebelumnya.
Demikian rutinitas ksadnoegiatanku tiap minggu. Kadang memang di siang hari setelah pulang gereja, aku jalan jalan ke mall, tapi hari ini wcuxrasanya aku amat lelah, membuat aku malas keluar, dan memutuskan untuk istirahat saja sepulang gereja sampai saatgck ke sekolah balet nanti. Selain itu selangkanganku masih agak ngilu akibat digangbang sekitar dua jam kemarin.
mnl Setelah merapikan penampilanku dengan menyisir rambutku supaya tak awut awutan, aku keluar ke ruang makan. Setelwguah mengambil nasi dan lauk yang tersedia, aku berniat membuat susu kesukaanku, tapi aku lihat toples gula di mejainpgc pinggir sudah kosong, jadi aku ke dapur sebentar untuk mengambil gula. Di sana aku disuguhi pemandangan yang memvawpbuatku terbelalak. Sulikah yang menurutku berwajah cantik ini sedang mencuci peralatan masak, dan disetubuhi daritsl belakang oleh Wawan yang menurutku tampangnya amburadul dengan ganas. Pakaiannya sudah tak karuan, tubuhnya yangpo mungil seukuran denganku terlihat mengejang sexy setiap penis Wawan menyodok vaginanya dalam dalam. Mereka mendebxeksah bersahut sahutan, tanpa menyadari keberadaanku kini yang terpaku melihat adegan itu. Tepat saat Wawan berorgbvutasme, tiba tiba Suwito masuk dari pintu belakang, gilanya, dengan telanjang bulat, membuatku memekik kaget. Hal ikoni menyebabkan Sulikah dan Wawan menoleh ke arahku dengan wajah seperti orang yang baru melihat setan, dan merekaigpbu segera saling melepaskan diri dari persetubuhan yang amat hot itu. Mereka terlihat gugup dan bingung, demikian jtnjuga Suwito yang kelihatan panik bertanya dengan tergagap gagap, "Lho.... Non Eliza... kok belum... berangkat ke gatxnereja?".
Ditanya demikian aku menjawab, "Iya, saya tadi bangunnya kesiangan. Maaf mengganggu, saya cuma mau ambeqil gula di dapur".
Mereka masih diam tertunduk saat aku mengambil gula di rak dapur, dan aku bergegas kembali kgpoze meja makan dengan berusaha tak memikirkan hal yang baru saja terjadi. Waktu jadi terasa berjalan lambat ketika lyaku sarapan pagi, dan setelah selesai aku berniat kembali ke kamarku.
Aku berdiri dari kursi, tapi baru aku akwaan melangkah, tiba tiba Sulikah, Wawan dan Suwito muncul dan menghadapku dengan takut takut.
"Non Eliza, kami mnmwajinta maaf. Tolong jangan bilang ke orang tua non atau kakak non ya.. kami tak tahu harus gimana kalau sampai kamikspt dipecat", kata Wawan mewakili mereka. Aku terdiam beberapa saat. Melihat mereka semua begitu tegang, aku merasa wrzuiba.
"Kalian tenang saja. Saya memang gak ada niat sama sekali untuk melaporkan hal tadi. Cuma saya pesan, lainbdfj kali kalian hati hati ya, jangan kelihatan kakak saya, apalagi orang tua saya. Nanti urusannya bisa panjang", kaojxftaku sambil tersenyum. Aku memang tak ada niatan sedikitpun untuk melaporkan hal ini pada siapapun. Mereka terlihchnofat begitu lega dan mengucap terima kasih berulang ulang. Lalu setelah semuanya tenang kutinggalkan mereka kembalircg ke kamarku. Sampai di dalam kamar, teringat apa yang mereka perbuat tadi membuat aku kembali membayangkan saat slsxdwaat aku digangbang kemarin, membuat nafasku sedikit memburu karena tiba tiba saja gairahku naik. Aku mulai melamuwsvn tentang keadaanku. Aku masih belum punya pacar. Memang ada banyak cowok di sekolahku yang mendekatiku, tapi semhnbuanya kutolak dengan halus, karena berulang kali ortuku mewanti wanti aku supaya tidak pacaran waktu masih sekolajstich. Walau begitu, aku sebenarnya tertarik pada seorang dari mereka yang bernama Andi. Tapi, kini aku sudah tidak prlhaerawan lagi, satu satunya yang sedikit aku sesali setelah acara gangbang itu, membuatku murung membayangkan bagaiuramana pandangan Andi terhadap diriku kelak kalau dia tahu.
Jam dinding di kamarku berbunyi, menunjukkan pukul 9qux. Oh, saat aku berangkat nih. Aku segera bangkit dan berganti pakaian, lalu turun menuju garasi. Pak Arifin seperrpsulti biasa menawariku, "Non, mau saya antar ke mana?".
Ia lupa kalau aku sudah bisa membawa mobil sendiri, tapi kbtznali ini aku pikir ada baiknya juga kalo aku tidak menyetir sendiri. Rasa pegal pegal pada tubuhku masih belum hilidgxlang seluruhnya, padahal nanti sore masih ada balet.
"Ke gereja ******** pak", kataku. Ia membukakan pintu belakmylsang mobil yang biasa dipakainya untuk mengantarku. Sepanjang perjalanan, aku hanya melamun, membayangkan apa yangjz kira kira terjadi sekarang. Apakah Sulikah kembali bermain sex dengan Wawan dan Suwito? Tak terasa, aku sudah sadqmpai di gereja. Setelah melakukan kebaktian rutin yang lamanya sekitar satu setengah jam dengan pikiran yang meladpuvcyang kemana mana, aku segera pulang. Di dalam mobil, aku yang sejak di dalam gereja tadi sudah mulai mengantuk, knrpkini kantukku semakin menjadi, sehingga aku tertidur di kursi belakang mobil. Entah apa yang terjadi, saat aku banmnxvgun aku sudah di ranjang kamar tidurku, membuatku tersentak kaget. Aku memeriksa keadaanku, yah, bajuku masih lenowgkap, bra dan celana dalamku masih melekat dengan baik. Tapi celana dalamku terlihat amat basah, kelihatannya olesqbmh cairan cintaku. Bajuku juga kusut sekali. Sialan, siapa ya yang mempermainkan tubuhku selagi aku tidur? Dan keteoika aku berdiri, kedua betisku terasa pegal seperti kemarin. Duh, sore ini aku harus latihan balet...
Jam menuqpzvenjukkan pukul 2 siang. Berarti aku tidur sekitar 3 jam. Mengingat aku tadi diantar pulang pak Arifin, kecurigaankeawku mengarah kepadanya. Hmm sialan tuh orang, cari kesempatan dalam kesempitan, pikirku. Dengan sedikit kesal aku trycuurun mencarinya. Tapi aku berpikir, bagaimana kalo pak Arifin menanyakan apa bukti kalo tadi itu perbuatan dia? Aawqjkkhirnya aku memutuskan untuk mendiamkan hal ini, dan aku pun ke ruang makan karena merasa lapar. Terlihat sudah aiblgeda masakan untukku, pasti Sulikah yang masak. Masakannya memang selalu lumayan enak sesuai dengan seleraku, membuapyhatku makan sedikit lebih banyak dari biasanya, dan seperti biasa aku selalu minum susu, tapi kali ini tanpa gula.apq Selagi makan, aku mendapat ide. Nanti aku minta pak Arifin kembali mengantarku, lalu aku pura pura tertidur. Jadwsbi aku bisa mengetahui, siapa yang tadi berbuat iseng padaku. Aku tersenyum senang karena merasa dengan begitu akuxy bisa menemukan pelakunya. Selesai makan aku kembali ke kamarku, menyetel musik kesukaanku, dan mandi busa untuk atmenyegarkan tubuhku. Selesai aku puas mandi memanjakan tubuhku, jam menunjukkan pukul 4 sore. Wah, setengah jam lukhagi harus berangkat nih. Aku pun mengeringkan tubuhku dan rambutku. Setelah itu, aku mengenakan kostum baletku seksbjtelah memakai bra dan celana dalam ketat yang berwarna putih serta stocking ketat model jaring berwarna hitam, yadtgsxng aku bisa pastikan aku terlihat amat sexy dan menggairahkan jika memakainya. Lalu aku mengenakan blus terusan bzknterwarna biru, jadi nanti di sana aku tak perlu ganti lagi di ruang ganti, tinggal melepas blus biru yang cukup kebdivetat ini dan hanya mengganti sepatuku yang kupakai sekarang dengan sepatu balet.
Setelah selesai aku segera menlxnvuju garasi, dan seperti yang aku harapkan, pak Arifin seperti biasa menunggu di samping mobil yang tadi itu. Sebeyxlum dia menawari aku sudah berkata "pak, tolong ke sekolah balet *******". Dan setelah membuka pintu mobil untukkdeu, ia segera melajukan mobil ini ke tempat tujuan. Aku memperhatikan pandangan matanya, kalau kalau ia mencuri pajxndang ke arah tubuhku. Namun tak kutemukan tanda tanda itu sampai akhirnya kami sampai ke tujuan. Aku mengangkat nubahu, dan kemudian masuk seperti biasa, untuk berlatih tari balet.
Kami akan show di akhir tahun nanti, dan akutoxe adalah penari utamanya, mungkin selain wajahku yang cantik dan tubuhku yang indah, aku juga dinilai oleh guru baaelet kami sebagai yang paling lentur dan indah gerakannya. Namun hari itu, aku hampir tak bisa menunjukkan performmcsfpa terbaikku, selain karena pikiranku yang melayang, tubuhku juga tak mau diajak kompromi, terutama selangkangankugcvr yang masih terasa sedikit ngilu dan betisku yang terasa pegal pegal. Akibatnya hari itu aku lumayan bad mood, daxvn berlatih ala kadarnya. Untung saja, guru balet kami merasa itu sudah cukup, dan setelah selesai, aku segera pulrvyoaang. Dan seperti yang sudah kurencanakan tadi, aku di mobil pura pura mengeluh, "Aduh.. hari ini kenapa ya.. darivtk tadi ngantuk terus..." seperti mengguman pada diri sendiri, namun aku yakin cukup keras untuk terdengar oleh pakmoxrj Arifin. Lalu untuk lebih meyakinkan, aku menguap berulang kali seperti tadi siang, dan pura pura bersandar tertilbuyxdur. Aku benar benar penasaran, apa yang akan terjadi.
Akhirnya kami sampai di rumah. Aku membuka mata sedikitnocmr untuk memastikan, kemudian aku kembali memejamkan mata dan berusaha bersikap sewajarnya seperti orang tidur. Setklelah mobil ini masuk garasi, pak Arifin memanggil Sulikah, yang segera datang, membantu mengangkatku ke atas, karzqngrena kamarku memang di lantai 2. Sampai di atas, aku mendengar suara Wawan dan Suwito yang bertanya, "Lho pak, ketguqjiduran lagi seperti tadi siang?". "Iya, rupanya kecapaian nih non Eliza setelah berlatih balet", kata pak Arifin.yfhsk Setelah aku rasakan tubuhku terbaring di ranjang, jantungku makin berdebar, menunggu apa yang akan terjadi. Sulievnlykah menyelimutiku, lalu berkata,"Ya sudah, ayo kita turun". Dan mereka semua keluar dari kamarku, meninggalkanku qmsyang semakin bingung dan penasaran. Namun naluriku berkata, aku harus tetap pura pura tertidur. Ternyata dugaankuazu benar, beberapa menit kemudian pintu kamarku kembali terbuka, dengan suara yang sangat pelan.
Namun aku bisa mipqendengarnya, karena aku memang tidak tidur. Dengan jantung berdebar aku menunggu untuk mengetahui siapa yang akanjwur berbuat iseng ini. Aku sedikit membuka mataku dengan amat hati hati, dan segera memejamkan mataku lagi. Ya ampunjgzy, aku melihat Wawan dan Suwito berjalan mengendap endap ke arahku yang tergolek di ranjang. Ternyata merekalah pesoelakunya! Kurang ajar betul mereka ini, sudah untung aku tadi pagi cuek dengan kelakuan mereka terhadap Sulikah, tklsdtapi kini mereka malah ngelunjak, hendak mengisengi anak majikan mereka. Sementara kudengar di bawah, Sulikah dan nfpak Arifin sedang bercanda, terdengar dari tawa Sulikah yang renyah, membuatku menduga duga, apakah Sulikah juga wmada main dengan pak Arifin...
Bersambung . . . .
Dengan malas aku bavdngkit menuju kamar mandi, menyalakan shower dan mandi sambil mengingat ingat kegilaanku kemarin, membuatku sedikiqgxt tersenyum malu saat aku menyikat gigiku. Setelah selesai aku mengeringkan tubuhku dan mengenakan baju santai. Kusjvtarena bangun kesiangan, aku yang biasanya ke gereja jam 8 pagi, terpaksa datang ke sesi 9:30 nanti karena sekaranrcg sudah jam 8 lebih dan masih ada waktu sekitar satu jam buatku sebelum pergi. Setelah itu, jadwal kegiatanku adawilah latihan balet di ******* jam 5 nanti, dan aku harus berangkat setengah jam sebelumnya.
Demikian rutinitas ksadnoegiatanku tiap minggu. Kadang memang di siang hari setelah pulang gereja, aku jalan jalan ke mall, tapi hari ini wcuxrasanya aku amat lelah, membuat aku malas keluar, dan memutuskan untuk istirahat saja sepulang gereja sampai saatgck ke sekolah balet nanti. Selain itu selangkanganku masih agak ngilu akibat digangbang sekitar dua jam kemarin.
mnl Setelah merapikan penampilanku dengan menyisir rambutku supaya tak awut awutan, aku keluar ke ruang makan. Setelwguah mengambil nasi dan lauk yang tersedia, aku berniat membuat susu kesukaanku, tapi aku lihat toples gula di mejainpgc pinggir sudah kosong, jadi aku ke dapur sebentar untuk mengambil gula. Di sana aku disuguhi pemandangan yang memvawpbuatku terbelalak. Sulikah yang menurutku berwajah cantik ini sedang mencuci peralatan masak, dan disetubuhi daritsl belakang oleh Wawan yang menurutku tampangnya amburadul dengan ganas. Pakaiannya sudah tak karuan, tubuhnya yangpo mungil seukuran denganku terlihat mengejang sexy setiap penis Wawan menyodok vaginanya dalam dalam. Mereka mendebxeksah bersahut sahutan, tanpa menyadari keberadaanku kini yang terpaku melihat adegan itu. Tepat saat Wawan berorgbvutasme, tiba tiba Suwito masuk dari pintu belakang, gilanya, dengan telanjang bulat, membuatku memekik kaget. Hal ikoni menyebabkan Sulikah dan Wawan menoleh ke arahku dengan wajah seperti orang yang baru melihat setan, dan merekaigpbu segera saling melepaskan diri dari persetubuhan yang amat hot itu. Mereka terlihat gugup dan bingung, demikian jtnjuga Suwito yang kelihatan panik bertanya dengan tergagap gagap, "Lho.... Non Eliza... kok belum... berangkat ke gatxnereja?".
Ditanya demikian aku menjawab, "Iya, saya tadi bangunnya kesiangan. Maaf mengganggu, saya cuma mau ambeqil gula di dapur".
Mereka masih diam tertunduk saat aku mengambil gula di rak dapur, dan aku bergegas kembali kgpoze meja makan dengan berusaha tak memikirkan hal yang baru saja terjadi. Waktu jadi terasa berjalan lambat ketika lyaku sarapan pagi, dan setelah selesai aku berniat kembali ke kamarku.
Aku berdiri dari kursi, tapi baru aku akwaan melangkah, tiba tiba Sulikah, Wawan dan Suwito muncul dan menghadapku dengan takut takut.
"Non Eliza, kami mnmwajinta maaf. Tolong jangan bilang ke orang tua non atau kakak non ya.. kami tak tahu harus gimana kalau sampai kamikspt dipecat", kata Wawan mewakili mereka. Aku terdiam beberapa saat. Melihat mereka semua begitu tegang, aku merasa wrzuiba.
"Kalian tenang saja. Saya memang gak ada niat sama sekali untuk melaporkan hal tadi. Cuma saya pesan, lainbdfj kali kalian hati hati ya, jangan kelihatan kakak saya, apalagi orang tua saya. Nanti urusannya bisa panjang", kaojxftaku sambil tersenyum. Aku memang tak ada niatan sedikitpun untuk melaporkan hal ini pada siapapun. Mereka terlihchnofat begitu lega dan mengucap terima kasih berulang ulang. Lalu setelah semuanya tenang kutinggalkan mereka kembalircg ke kamarku. Sampai di dalam kamar, teringat apa yang mereka perbuat tadi membuat aku kembali membayangkan saat slsxdwaat aku digangbang kemarin, membuat nafasku sedikit memburu karena tiba tiba saja gairahku naik. Aku mulai melamuwsvn tentang keadaanku. Aku masih belum punya pacar. Memang ada banyak cowok di sekolahku yang mendekatiku, tapi semhnbuanya kutolak dengan halus, karena berulang kali ortuku mewanti wanti aku supaya tidak pacaran waktu masih sekolajstich. Walau begitu, aku sebenarnya tertarik pada seorang dari mereka yang bernama Andi. Tapi, kini aku sudah tidak prlhaerawan lagi, satu satunya yang sedikit aku sesali setelah acara gangbang itu, membuatku murung membayangkan bagaiuramana pandangan Andi terhadap diriku kelak kalau dia tahu.
Jam dinding di kamarku berbunyi, menunjukkan pukul 9qux. Oh, saat aku berangkat nih. Aku segera bangkit dan berganti pakaian, lalu turun menuju garasi. Pak Arifin seperrpsulti biasa menawariku, "Non, mau saya antar ke mana?".
Ia lupa kalau aku sudah bisa membawa mobil sendiri, tapi kbtznali ini aku pikir ada baiknya juga kalo aku tidak menyetir sendiri. Rasa pegal pegal pada tubuhku masih belum hilidgxlang seluruhnya, padahal nanti sore masih ada balet.
"Ke gereja ******** pak", kataku. Ia membukakan pintu belakmylsang mobil yang biasa dipakainya untuk mengantarku. Sepanjang perjalanan, aku hanya melamun, membayangkan apa yangjz kira kira terjadi sekarang. Apakah Sulikah kembali bermain sex dengan Wawan dan Suwito? Tak terasa, aku sudah sadqmpai di gereja. Setelah melakukan kebaktian rutin yang lamanya sekitar satu setengah jam dengan pikiran yang meladpuvcyang kemana mana, aku segera pulang. Di dalam mobil, aku yang sejak di dalam gereja tadi sudah mulai mengantuk, knrpkini kantukku semakin menjadi, sehingga aku tertidur di kursi belakang mobil. Entah apa yang terjadi, saat aku banmnxvgun aku sudah di ranjang kamar tidurku, membuatku tersentak kaget. Aku memeriksa keadaanku, yah, bajuku masih lenowgkap, bra dan celana dalamku masih melekat dengan baik. Tapi celana dalamku terlihat amat basah, kelihatannya olesqbmh cairan cintaku. Bajuku juga kusut sekali. Sialan, siapa ya yang mempermainkan tubuhku selagi aku tidur? Dan keteoika aku berdiri, kedua betisku terasa pegal seperti kemarin. Duh, sore ini aku harus latihan balet...
Jam menuqpzvenjukkan pukul 2 siang. Berarti aku tidur sekitar 3 jam. Mengingat aku tadi diantar pulang pak Arifin, kecurigaankeawku mengarah kepadanya. Hmm sialan tuh orang, cari kesempatan dalam kesempitan, pikirku. Dengan sedikit kesal aku trycuurun mencarinya. Tapi aku berpikir, bagaimana kalo pak Arifin menanyakan apa bukti kalo tadi itu perbuatan dia? Aawqjkkhirnya aku memutuskan untuk mendiamkan hal ini, dan aku pun ke ruang makan karena merasa lapar. Terlihat sudah aiblgeda masakan untukku, pasti Sulikah yang masak. Masakannya memang selalu lumayan enak sesuai dengan seleraku, membuapyhatku makan sedikit lebih banyak dari biasanya, dan seperti biasa aku selalu minum susu, tapi kali ini tanpa gula.apq Selagi makan, aku mendapat ide. Nanti aku minta pak Arifin kembali mengantarku, lalu aku pura pura tertidur. Jadwsbi aku bisa mengetahui, siapa yang tadi berbuat iseng padaku. Aku tersenyum senang karena merasa dengan begitu akuxy bisa menemukan pelakunya. Selesai makan aku kembali ke kamarku, menyetel musik kesukaanku, dan mandi busa untuk atmenyegarkan tubuhku. Selesai aku puas mandi memanjakan tubuhku, jam menunjukkan pukul 4 sore. Wah, setengah jam lukhagi harus berangkat nih. Aku pun mengeringkan tubuhku dan rambutku. Setelah itu, aku mengenakan kostum baletku seksbjtelah memakai bra dan celana dalam ketat yang berwarna putih serta stocking ketat model jaring berwarna hitam, yadtgsxng aku bisa pastikan aku terlihat amat sexy dan menggairahkan jika memakainya. Lalu aku mengenakan blus terusan bzknterwarna biru, jadi nanti di sana aku tak perlu ganti lagi di ruang ganti, tinggal melepas blus biru yang cukup kebdivetat ini dan hanya mengganti sepatuku yang kupakai sekarang dengan sepatu balet.
Setelah selesai aku segera menlxnvuju garasi, dan seperti yang aku harapkan, pak Arifin seperti biasa menunggu di samping mobil yang tadi itu. Sebeyxlum dia menawari aku sudah berkata "pak, tolong ke sekolah balet *******". Dan setelah membuka pintu mobil untukkdeu, ia segera melajukan mobil ini ke tempat tujuan. Aku memperhatikan pandangan matanya, kalau kalau ia mencuri pajxndang ke arah tubuhku. Namun tak kutemukan tanda tanda itu sampai akhirnya kami sampai ke tujuan. Aku mengangkat nubahu, dan kemudian masuk seperti biasa, untuk berlatih tari balet.
Kami akan show di akhir tahun nanti, dan akutoxe adalah penari utamanya, mungkin selain wajahku yang cantik dan tubuhku yang indah, aku juga dinilai oleh guru baaelet kami sebagai yang paling lentur dan indah gerakannya. Namun hari itu, aku hampir tak bisa menunjukkan performmcsfpa terbaikku, selain karena pikiranku yang melayang, tubuhku juga tak mau diajak kompromi, terutama selangkangankugcvr yang masih terasa sedikit ngilu dan betisku yang terasa pegal pegal. Akibatnya hari itu aku lumayan bad mood, daxvn berlatih ala kadarnya. Untung saja, guru balet kami merasa itu sudah cukup, dan setelah selesai, aku segera pulrvyoaang. Dan seperti yang sudah kurencanakan tadi, aku di mobil pura pura mengeluh, "Aduh.. hari ini kenapa ya.. darivtk tadi ngantuk terus..." seperti mengguman pada diri sendiri, namun aku yakin cukup keras untuk terdengar oleh pakmoxrj Arifin. Lalu untuk lebih meyakinkan, aku menguap berulang kali seperti tadi siang, dan pura pura bersandar tertilbuyxdur. Aku benar benar penasaran, apa yang akan terjadi.
Akhirnya kami sampai di rumah. Aku membuka mata sedikitnocmr untuk memastikan, kemudian aku kembali memejamkan mata dan berusaha bersikap sewajarnya seperti orang tidur. Setklelah mobil ini masuk garasi, pak Arifin memanggil Sulikah, yang segera datang, membantu mengangkatku ke atas, karzqngrena kamarku memang di lantai 2. Sampai di atas, aku mendengar suara Wawan dan Suwito yang bertanya, "Lho pak, ketguqjiduran lagi seperti tadi siang?". "Iya, rupanya kecapaian nih non Eliza setelah berlatih balet", kata pak Arifin.yfhsk Setelah aku rasakan tubuhku terbaring di ranjang, jantungku makin berdebar, menunggu apa yang akan terjadi. Sulievnlykah menyelimutiku, lalu berkata,"Ya sudah, ayo kita turun". Dan mereka semua keluar dari kamarku, meninggalkanku qmsyang semakin bingung dan penasaran. Namun naluriku berkata, aku harus tetap pura pura tertidur. Ternyata dugaankuazu benar, beberapa menit kemudian pintu kamarku kembali terbuka, dengan suara yang sangat pelan.
Namun aku bisa mipqendengarnya, karena aku memang tidak tidur. Dengan jantung berdebar aku menunggu untuk mengetahui siapa yang akanjwur berbuat iseng ini. Aku sedikit membuka mataku dengan amat hati hati, dan segera memejamkan mataku lagi. Ya ampunjgzy, aku melihat Wawan dan Suwito berjalan mengendap endap ke arahku yang tergolek di ranjang. Ternyata merekalah pesoelakunya! Kurang ajar betul mereka ini, sudah untung aku tadi pagi cuek dengan kelakuan mereka terhadap Sulikah, tklsdtapi kini mereka malah ngelunjak, hendak mengisengi anak majikan mereka. Sementara kudengar di bawah, Sulikah dan nfpak Arifin sedang bercanda, terdengar dari tawa Sulikah yang renyah, membuatku menduga duga, apakah Sulikah juga wmada main dengan pak Arifin...
Bersambung . . . .
Gadis Pemuas Lelaki 4
Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacobtldungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuhah nafsu. Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun taqkaompaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku. Girno
segera menyergapmap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat bsaresar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku.
Girno yang sudah terbakar nafsu ini mupalai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakanemrb nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodtwmzokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelakhprngan
tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Agnreku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girndkvbo melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetpoar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno
menggeram nobggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan cengkramannya pada keduatkud pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah mezixlumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebihzui gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum sencgbxang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampurci cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia hnosmulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa npemampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku.
Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang bkgqyelum terpuaskan dalam "sesi" ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yfxdang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geuiljli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu nxwjsmulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karubyrcena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pakdu Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam sajhnqa, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari typhubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatpmeuwan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke kpwc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku.
Sambil keluar Urip berkata, "nanti kasinmeojhan non Eliza, kalo memeknya yang bersih jadi kotor kalo kontolku tidak aku cuci".
"Iya, juga, kan kasihan, amoy cakep twlpgcakep gini harus ngemut kontol yang kotor seperti ini", sambung Yoyok.
Oh... ternyata mereka begitu pengertian padaku.ljs Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap fmuvtusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 mrpenit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyakynok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka beragiqxdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusanbsng. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkalzen pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.
Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentaryhr pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus.
"Sebentar bapak bapak, sayajov mau minum dulu ya", kataku.
Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapizk aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini.
"Pak Girno. Itjuclu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lryiagi ya pak", kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku.
Tazupgypi Girno berkata, "Gak usah non. Saya belikan saja".
Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembalokcxbi dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menungjeitsgu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainyatjg. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang sevogelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus.
"Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini mvzflagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?".
Girno dengan tersenyum menjawab, "nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pintawngin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non".
Yah.. pokoknya yklhfbukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengohsjgambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.
Kemudian aku kembali ke ranjang, wsemenuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringatrgax kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perpaknmangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dmzxan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan
penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok meminttmanwaku mengoral penisnya.
Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme merekaor bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan mnmembuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkahen aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme.
Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlshonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah seiypbsmakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu lrxbirahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pahfbkda sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nagmfsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah selkaesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih.nowg Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan lyamcpahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memanduphgangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya tertawa sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oowzsileh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dsjdan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikaekwmfn seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu xdfsekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kcdyvalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang akzoesalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin meplmperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.
"Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu skhxwaja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya", kata Girno.
Aku tak terlalu terkejut mendengaraouyr hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, "maksud bapak?"
"Non tentu sudah mengerti, kami masih ingpxinkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelumxmg hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti haubrpri ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non haptrus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy?" jelas Girno panjang lebar.ts
Pak Edy mengiyakan dan berkata, "benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya carieqbta cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam
macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kapqfmmu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu".
Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah.ryuik
Oh Tuhan... di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini... Danps aku tak bisa menolak sama sekali... Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatxlkfih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, retoti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada tpbyang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.
Samppkeuai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman ruoeimah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Di sana aku hstbuka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkenarf campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertingzrefwgal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali mgbcenjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudmjkian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelhnfelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajaksfh puas orang orang yang tadi menggangbang aku.
segera menyergapmap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat bsaresar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku.
Girno yang sudah terbakar nafsu ini mupalai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakanemrb nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodtwmzokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelakhprngan
tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Agnreku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girndkvbo melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetpoar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno
menggeram nobggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan cengkramannya pada keduatkud pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah mezixlumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebihzui gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum sencgbxang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampurci cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia hnosmulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa npemampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku.
Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang bkgqyelum terpuaskan dalam "sesi" ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yfxdang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geuiljli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu nxwjsmulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karubyrcena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pakdu Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam sajhnqa, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari typhubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatpmeuwan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke kpwc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku.
Sambil keluar Urip berkata, "nanti kasinmeojhan non Eliza, kalo memeknya yang bersih jadi kotor kalo kontolku tidak aku cuci".
"Iya, juga, kan kasihan, amoy cakep twlpgcakep gini harus ngemut kontol yang kotor seperti ini", sambung Yoyok.
Oh... ternyata mereka begitu pengertian padaku.ljs Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap fmuvtusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 mrpenit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyakynok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka beragiqxdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusanbsng. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkalzen pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.
Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentaryhr pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus.
"Sebentar bapak bapak, sayajov mau minum dulu ya", kataku.
Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapizk aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini.
"Pak Girno. Itjuclu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lryiagi ya pak", kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku.
Tazupgypi Girno berkata, "Gak usah non. Saya belikan saja".
Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembalokcxbi dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menungjeitsgu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainyatjg. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang sevogelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus.
"Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini mvzflagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?".
Girno dengan tersenyum menjawab, "nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pintawngin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non".
Yah.. pokoknya yklhfbukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengohsjgambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.
Kemudian aku kembali ke ranjang, wsemenuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringatrgax kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perpaknmangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dmzxan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan
penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok meminttmanwaku mengoral penisnya.
Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme merekaor bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan mnmembuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkahen aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme.
Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlshonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah seiypbsmakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu lrxbirahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pahfbkda sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nagmfsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah selkaesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih.nowg Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan lyamcpahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memanduphgangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya tertawa sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oowzsileh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dsjdan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikaekwmfn seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu xdfsekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kcdyvalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang akzoesalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin meplmperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.
"Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu skhxwaja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya", kata Girno.
Aku tak terlalu terkejut mendengaraouyr hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, "maksud bapak?"
"Non tentu sudah mengerti, kami masih ingpxinkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelumxmg hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti haubrpri ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non haptrus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy?" jelas Girno panjang lebar.ts
Pak Edy mengiyakan dan berkata, "benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya carieqbta cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam
macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kapqfmmu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu".
Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah.ryuik
Oh Tuhan... di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini... Danps aku tak bisa menolak sama sekali... Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatxlkfih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, retoti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada tpbyang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.
Samppkeuai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman ruoeimah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Di sana aku hstbuka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkenarf campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertingzrefwgal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali mgbcenjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudmjkian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelhnfelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajaksfh puas orang orang yang tadi menggangbang aku.
Gadis Pemuas Lelaki 3
Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekalihc. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang.
"Aaaaaaaaaaaaagh... sakgqiiiit", erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang frhdan mulutku ternganga,
Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenanmkan penisnya dalam mulutku, hingga erfgcianganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku, begitu panjrnqbang, walaupun diameternya tidak terlalu besar. Tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokhvfpkanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penihezbsnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, sjniqtapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganeaywnku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditamyvnaubah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, membuat aku benar benar melayang dalam kenikmatan. Haneqwya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergwrketar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanqbkfspa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multgwaoi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang qigjulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintakuit yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno.
Tanrfiztganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip hymeremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarkhxeang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini.
Aku memang pernah berfgxmasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang tmuwqerdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek cdtenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, "Hegh.. hu... huoooooooh.."ljva, Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang aovvaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juuorxga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membudihreat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran daxaokrah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.
"Oh.. enake rek, memek amoy seng sek perawan...", kata Gicwgrno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urrzjxip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang ruxytsudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang kjbmasih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selamarvkb hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis.
Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi aoamat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalpexobagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan.
Mereka benar benar menepati janjbpzi untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukkmhwlu dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga memburenvatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujurajvkq tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa akukhmw rela
melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati.
"Hah? Apa yang baru satqoyja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu?", pikirku dalam hati.
Lamunanovhqfku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku.
"Nohwgqbn, kita lanjutin ya", kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menuruldevkt saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu uxvplntuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini.
"Ooh... aaah....", erang Soleh ketika penisnya mugmulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang ubhlebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan.
"Ooh.. aduuuuh...", erangyqarjku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa etohangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka rjwumemberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali wtcini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh inihbgq pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali akuvcl disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap.
Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkantlpg seperti kodok, dan... perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang
amat keras ini, membucdat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuaiogftku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masinpmg memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aztku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, meslcmintaku mengoral penisnya.
"Dioral sekalian El, daripada nganggur nih", katanya dengan senyum yang memuakkzhxan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutkxuefru walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. hyxJadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Solehxlqsd dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi.
"Ejpieeeeemmmmph....", erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginlisaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem
melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutkduklju, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam munipqlutku, rasanya aneh, asin dan asam.
Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh craku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidakvqfu ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, "Lho pak, kok sudah keluar? dixhMasa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama memeknya? Seret banget lho pak", kata Soleh, ydtorang disambung tawa yang lain.
Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di seycbelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringanncj. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke muiptlutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, menpoayzgimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anuskwmu. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang
"Oooouuuuggghh...", seiring berkedutnya penisnya dyzqflalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kinmvii aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghdxitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada pczenis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi... diameternya itu... rasanya seimbang dengan punya siwnaoi Girno.
Oh celaka... penis itu akan segera menghajar anusku.
"ooooh... oooooogh... sakiiiit...", erangkutfsm ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menqsglderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kataba kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergansiheqtung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkgwvfqonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.
Dengan pormgeasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutwgan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spabermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuaobnya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyovhjok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Svwlrjoleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan.
"Oooooohh... aaaaaaargh", uvrnseolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Solezeih di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihiwnkan tuntas seperti punya pak Edy tadi.
Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dqskvian lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya pdtak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dixan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku tukmhaelentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mzjsequngkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak fantingin penisnya
terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.
Bersambung . . . .
"Aaaaaaaaaaaaagh... sakgqiiiit", erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang frhdan mulutku ternganga,
Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenanmkan penisnya dalam mulutku, hingga erfgcianganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku, begitu panjrnqbang, walaupun diameternya tidak terlalu besar. Tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokhvfpkanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penihezbsnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, sjniqtapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganeaywnku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditamyvnaubah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, membuat aku benar benar melayang dalam kenikmatan. Haneqwya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergwrketar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanqbkfspa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multgwaoi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang qigjulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintakuit yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno.
Tanrfiztganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip hymeremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarkhxeang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini.
Aku memang pernah berfgxmasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang tmuwqerdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek cdtenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, "Hegh.. hu... huoooooooh.."ljva, Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang aovvaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juuorxga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membudihreat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran daxaokrah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.
"Oh.. enake rek, memek amoy seng sek perawan...", kata Gicwgrno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urrzjxip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang ruxytsudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang kjbmasih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selamarvkb hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis.
Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi aoamat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalpexobagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan.
Mereka benar benar menepati janjbpzi untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukkmhwlu dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga memburenvatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujurajvkq tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa akukhmw rela
melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati.
"Hah? Apa yang baru satqoyja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu?", pikirku dalam hati.
Lamunanovhqfku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku.
"Nohwgqbn, kita lanjutin ya", kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menuruldevkt saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu uxvplntuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini.
"Ooh... aaah....", erang Soleh ketika penisnya mugmulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang ubhlebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan.
"Ooh.. aduuuuh...", erangyqarjku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa etohangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka rjwumemberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali wtcini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh inihbgq pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali akuvcl disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap.
Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkantlpg seperti kodok, dan... perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang
amat keras ini, membucdat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuaiogftku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masinpmg memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aztku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, meslcmintaku mengoral penisnya.
"Dioral sekalian El, daripada nganggur nih", katanya dengan senyum yang memuakkzhxan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutkxuefru walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. hyxJadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Solehxlqsd dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi.
"Ejpieeeeemmmmph....", erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginlisaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem
melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutkduklju, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam munipqlutku, rasanya aneh, asin dan asam.
Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh craku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidakvqfu ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, "Lho pak, kok sudah keluar? dixhMasa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama memeknya? Seret banget lho pak", kata Soleh, ydtorang disambung tawa yang lain.
Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di seycbelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringanncj. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke muiptlutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, menpoayzgimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anuskwmu. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang
"Oooouuuuggghh...", seiring berkedutnya penisnya dyzqflalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kinmvii aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghdxitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada pczenis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi... diameternya itu... rasanya seimbang dengan punya siwnaoi Girno.
Oh celaka... penis itu akan segera menghajar anusku.
"ooooh... oooooogh... sakiiiit...", erangkutfsm ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menqsglderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kataba kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergansiheqtung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkgwvfqonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.
Dengan pormgeasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutwgan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spabermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuaobnya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyovhjok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Svwlrjoleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan.
"Oooooohh... aaaaaaargh", uvrnseolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Solezeih di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihiwnkan tuntas seperti punya pak Edy tadi.
Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dqskvian lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya pdtak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dixan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku tukmhaelentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mzjsequngkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak fantingin penisnya
terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.
Bersambung . . . .
Gadis Pemuas Lelaki 2
Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis merekaxiy sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihazlyrt penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku,zu sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku.dkvm Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yanbgeg putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu.
"Infbdah sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali",xzo puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Syijemakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara merekuzsa semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatalup sayu pada Girno.
"Pak, pelan pelan pak ya.." aku mencoba mengingatkan Girno, ymdtxjang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisiwz siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terwfangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidyoezak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak aprkan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.
Kedua pjtyibayudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh beqtrgantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat drheaku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejanrastfg lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girnoxj yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku.
"Eh.. non Eliza inifslbo... belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non,kenikmatan yobuwang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada
bagusnya juga lho, memek nonyzw pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya", ejeknya sambil uynvmulai melesakkan penisnya ke
vaginaku.
"Aduh.. sakit pak" erangku, dan Girno onberkata "Tenang non, nanti juga enak".
Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dzuban melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangatpc melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlqvrybalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan tmfphpenuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitikmutwsu.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nxajqikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusujodkkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambilstfj menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoymbrkwok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus moqzpsenerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sabidsmkit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek.
"Ooohhh... aaaauuugggh... hynngggkk aaaaagh..." Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air maoktaku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin mervqronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang,ujk dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini.
"nejAduh.. sakit pak Girno... ampun", erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas kzyarena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, "terus.. terus..". Agdhku menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sosdementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyagkoxk bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itmivou tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditryfambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anamogck kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.
eol Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperjrdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Giephdrno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasluakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Peniswrcel itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdkaenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai mtraneracau, "Oh sempitnya non. Enaknya.. ah...", sambil terus memompa penisnya sampasyqbui akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, munnravgkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun akuijnb merasakan sakit yang bercampur nikmat.
Mulutku ternganga, kedua tanganku mencjsiqgengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku teroxlasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan peomscnis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.
Dan setelah diam ujtwyntuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku menhqeugerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tdrertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yvjxmang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata "Isep non. Awas, jangacdxzn digigit ya!" Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enakxn ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjanesyug juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapndfui mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa pxmbenisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku hflbrberusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejmpbyjruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kanantbzcku, menggengamkan tanganku ke penisnya.
"Non, ayo dikocok!", perintahnya. Penixobs itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku taksrw sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tangankuxi, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba vstiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengeruzerfbutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam etmxkdalam vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, "Apa apaan ini? Apa sdlyang kalian lakukan pada Eliza?". Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kuluwrayimanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak "Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskanepxq saya dari mereka". Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, "Kalznuyian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembeliankoiht kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa... hahahvoipa...". Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbavxng ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumankkquzyu pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tauwpi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir.
Setelah sadar bahwa pak Edy juigwdtga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan pumckrenisnya pada vaginaku, Girno berkata, "Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. dnvzItu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulwrdfu. Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih".
Pak Edy tertazquwa.
"Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?" nyjkatanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tpednzidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.
Tapi aku avsudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yanlsg ke tiga kalinya.
"Aaaaagh.. paaak... sayaaa... keluaaaar....", erangku yang sexowtanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kirirxgitku yang memang menganggur.
Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhksbeolu terlonjak ufl
Bersambung . . .
"Infbdah sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali",xzo puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Syijemakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara merekuzsa semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatalup sayu pada Girno.
"Pak, pelan pelan pak ya.." aku mencoba mengingatkan Girno, ymdtxjang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisiwz siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terwfangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidyoezak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak aprkan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.
Kedua pjtyibayudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh beqtrgantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat drheaku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejanrastfg lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girnoxj yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku.
"Eh.. non Eliza inifslbo... belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non,kenikmatan yobuwang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada
bagusnya juga lho, memek nonyzw pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya", ejeknya sambil uynvmulai melesakkan penisnya ke
vaginaku.
"Aduh.. sakit pak" erangku, dan Girno onberkata "Tenang non, nanti juga enak".
Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dzuban melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangatpc melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlqvrybalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan tmfphpenuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitikmutwsu.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nxajqikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusujodkkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambilstfj menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoymbrkwok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus moqzpsenerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sabidsmkit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek.
"Ooohhh... aaaauuugggh... hynngggkk aaaaagh..." Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air maoktaku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin mervqronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang,ujk dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini.
"nejAduh.. sakit pak Girno... ampun", erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas kzyarena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, "terus.. terus..". Agdhku menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sosdementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyagkoxk bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itmivou tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditryfambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anamogck kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.
eol Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperjrdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Giephdrno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasluakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Peniswrcel itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdkaenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai mtraneracau, "Oh sempitnya non. Enaknya.. ah...", sambil terus memompa penisnya sampasyqbui akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, munnravgkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun akuijnb merasakan sakit yang bercampur nikmat.
Mulutku ternganga, kedua tanganku mencjsiqgengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku teroxlasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan peomscnis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.
Dan setelah diam ujtwyntuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku menhqeugerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tdrertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yvjxmang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata "Isep non. Awas, jangacdxzn digigit ya!" Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enakxn ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjanesyug juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapndfui mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa pxmbenisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku hflbrberusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejmpbyjruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kanantbzcku, menggengamkan tanganku ke penisnya.
"Non, ayo dikocok!", perintahnya. Penixobs itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku taksrw sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tangankuxi, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba vstiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengeruzerfbutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam etmxkdalam vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, "Apa apaan ini? Apa sdlyang kalian lakukan pada Eliza?". Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kuluwrayimanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak "Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskanepxq saya dari mereka". Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, "Kalznuyian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembeliankoiht kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa... hahahvoipa...". Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbavxng ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumankkquzyu pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tauwpi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir.
Setelah sadar bahwa pak Edy juigwdtga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan pumckrenisnya pada vaginaku, Girno berkata, "Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. dnvzItu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulwrdfu. Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih".
Pak Edy tertazquwa.
"Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?" nyjkatanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tpednzidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.
Tapi aku avsudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yanlsg ke tiga kalinya.
"Aaaaagh.. paaak... sayaaa... keluaaaar....", erangku yang sexowtanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kirirxgitku yang memang menganggur.
Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhksbeolu terlonjak ufl
Bersambung . . .
Gadis Pemuas Lelaki 1
Namaku Eliza. Cerita ini terjadi saat usiaku masih 17 tahun. Waktu itu, aku duduk di kelas 2 SMA swasta yang amat terkenal di Surabaya. Aku seorang Chinese, tinggi 157 cm, berat 45 kg, rambutku hitam panjang sepunggung. Kata orang orang, wajahku cantik dan tubuhku sangat ideal. Namun karena inilah aku mengalami malapetaka di hari Sabtu, tanggal 18 Desember. Seminggu setelah perayaan ultahku yang ke 17 ini, dimana aku akhirnya mendapatkan SIM karena sudah cukup umur, maka aku ke sekolah dengan mengendarai mobilku sendiri, mobil hadiah ultahku. Sepulang sekolah, jam menunjukkan waktu 18:30 (aku sekolah siang, jadi pulangnya begitu malam), aku merasa perutku sakit, jadi aku ke WC dulu. Karena aku bawa mobil sendiri, jadi dengan santai aku buang air di WC, tanpa harus kuatir merasa sungkan dengan sopir yang menungguku. Tapi yang mengherankan dan sekaligus menjengkelkan, aku harus bolak balik ke wc sampai 5 kali, mungkin setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan, baru akhirnya aku berhenti buang air. Namun perutku masih terasa mulas. Maka aku memutuskan untuk mampir ke UKS sebentar dan mencari minyak putih. Sebuah keputusan fatal yang harus kubayar dengan kesucianku.
Aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak obat. Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan rasa sakit perutku. Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini. Aku yang sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini. dan belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya. Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma eeemph eeemph. Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas. Namun apa arti tenaga seorang gadis yang mungil sepertiku menghadapi seorang lelaki yang tinggi besar seperti Hadi ini? Aku sungguh merasa tak berdaya.Halo non Eliza kok masih ada di sekolah malam malam begini? tanya Hadi dengan menjemukan. Mataku terbelalak ketika masuk lagi tukang sapu yang lain yang bernama bernama Yoyok. Girnooo, ia melongok keluar pintu dan berteriak memanggil satpam di sekolahku. Aku sempat merasa lega, kukira aku akan selamat dari cengkeraman Hadi, tapi ternyata Yoyok yang mendekati kami bukannya menolongku, malah memegang pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mulai meremasi payudaraku. Wah baru kali ini ada kesempatan pegang susu amoy.. ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had? tanya Yoyok pada Hadi, yang menjawab iya Yok, amoy tercantik di sekolah ini. Betul gak? tanya Hadi. Sambil tertawa Yoyok meremas payudaraku makin keras. Aku menggeliat kesakitan dan terus meronta berusaha melepaskan diri sambil berharap semoga Girno yang sering kuberi tips untuk mengantrikan aku bakso kesukaanku tiap istirahat sekolah, tidak setega mereka berdua yang sudah seperti kerasukan iblis ini. Tapi aku langsung sadar aku dalam bahaya besar. Yang memanggil Girno tadi itu kan Yoyok. Jadi sungguh bodoh bila aku berharap banyak pada Girno yang kalau tidak salah memang pernah aku temukan sedang mencuri pandang padaku. Ataukah ?
Beberapa saat kemudian Girno datang, dan melihatku diperlakukan seperti itu, Girno menyeringai dan berkata, Dengar! Kalian jangan gegabah.. non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam 8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong, dan itu saatnya kita berpesta kawan kawan!. Maka lemaslah tubuhku setelah dugaanku terbukti, dan dengan mudah mereka membaringkan tubuhku di atas ranjang UKS. Kedua tangan dan kakiku diikat erat pada sudut sudut ranjang itu, dan dua kancing bajuku yang belum lepas dilepaskan oleh Hadi, hingga terlihat kulit tubuhku yang putih mulus, serta bra warna pink yang menutupi payudaraku. Aku mulai putus asa dan memohon Pak Girno.. tolong jangan begini pak... Ratapanku ini dibalas ciuman Girno pada bibirku. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu, sampai aku megap megap kehabisan nafas, lalu ia menyumpal mulutku supaya aku tak bisa berteriak minta tolong. Non Eliza, tenang saja. Nanti juga non bakalan merasakan surga dunia kok, kata Girno sambil tersenyum memuakkan. Kemudian Girno memerintahkan mereka semua untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dan mereka meninggalkanku sendirian di ruang UKS sialan ini. Girno kembali ke posnya, Hadi dan Yoyok meneruskan pekerjaannya menyapu beberapa ruangan kelas yang belum disapu. Dan aku kini hanya bisa pasrah menunggu nasib.
Aku bergidik membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Dari berbagai macam cerita kejahatan yang aku dengar, aku mengerti mereka pasti akan memperkosaku ramai ramai. Sakit perutku sudah hilang berkat khasiat minyak putih tadi. Detik demi detik berlalu begitu cepat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jam di ruang UKS sudah menunjukkan pukul 20:00. tibalah saatnya aku dibantai oleh mereka. Hadi masuk, diikuti Yoyok, Girno, dan celakanya ternyata mereka mengajak 2 satpam yang lain, Urip dan Soleh. Hai amoy cantik.. sudah nggak sabar menunggu kami ya?, kata Hadi. Dengan mulut yang tersumpal sementara tangan dan kakiku terikat, aku hanya bisa menggeleng nggelengkan kepala, dengan air mata yang mengalir deras aku memandang mereka memohon belas kasihan, walaupun aku tahu pasti hal ini tak ada gunanya. Mereka hanya tertawa dan dengan santai melepaskan baju seragam sekolahku, hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam yang warnanya pink. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan mulai menggerayangi tubuhku, tanpa aku bisa melawan sama sekali. Aku masih sempat memperhatikan, betapa kulit mereka itu hitam legam dan kasar dibandingkan kulitku yang putih mulus, membuatku sedikit banyak merasa jijik juga ketika memikirkan tubuhku dikerubuti mereka, untuk kemudian digangbang tanpa ampun..
Aku terus meronta, tapi tiba tiba perasaanku tersengat ketika jari-jari Girno menyentuh selangkanganku, menekan nekan klitorisku yang masih terbungkus celana dalam. Aku tak tau sejak kapan, tapi bra yang aku pakai sudah lenyap entah kemana, dan payudaraku diremas remas dengan brutal oleh Hadi dan Yoyok, membuat tubuhku panas dingin tak karuan. Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, Urip mendekatiku, melepas sumpalan pada mulutku, dan melumat bibirku habis habisan. Ya ampun.. aku semakin gelagapan, apalagi kemudian Soleh meraba dan membelai kedua pahaku. Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa oleh 5 orang sekaligus, aku merasakan gejolak luar biasa melanda tubuhku yang tanpa bisa kukendalikan, berkelojotan dan mengejang hebat, berulang kali aku terlonjak lonjak, ada beberapa saat lamanya tubuhku tersentak sentak, kakiku melejang lejang, rasanya seluruh tubuhku bergetar. oh.. oh augh.. ngggg.. aaaaaaagh aku mengerang dan menjerit keenakan dan keringatku membanjir deras. Lalu aku merasa kelelahan dan lemas sekali, dan mereka menertawakanku yang sedang dilanda orgasme hebat. Enak ya non? Hahaha nanti Non pasti minta tambah. Aku tak melihat siapa yang bicara, tapi aku tahu itu suara Yoyok, dan aku malas menanggapi ucapan yang amat kurang ajar dan merendahkanku itu.
Kemudian Girno berkata padaku, Non Eliza, kami akan melepaskan ikatanmu. Jika nona tidak macam macam, kami akan melepaskan nona setelah kami puas. Tapi jika nona macam macam, nona akan kami bawa ke rumah kosong di sebelah mess kami. Dan nona tahu kan apa akibatnya? Di situ nona tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh penghuni mess kami. Mengerti ya non?. Mendengar hal itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, dan berharap aku cukup kuat untuk melalui ini semu. Iya pak. Jangan bawa saya ke sana pak. Saya akan menuruti kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar. Tolong jangan keluarkan di dalam ya? pintaku sungguh sungguh, dan merasa ngeri jika aku harus dibawa ke mess mereka. Aku tahu penghuni mess itu ada sekitar 60 orang, yang merupakan gabungan satpam, tukang sapu dan tukang kebun dari SMA tempat aku sekolah ini, ditambah dari SMP dan SD yang memang masih sekomplek, maklum satu yayasan. Daripada aku lebih menderita digangbang oleh 60 orang, lebih baik aku menuruti apa mau mereka yang cuma berlima ini. Dan aku benar benar berharap agar tak ada yang melukaiku, berharap mereka tidak segila itu untuk menindik tubuhku, trend yang kudengar sering dilakukan oleh pemerkosanya menindik puting susu korbannya. Aku benar benar takut.
Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona yang sexy, dan selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini sejak non masih kelas 1 SMA. Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke 17 dan merayakannya di kelas, bahkan memberi kami makanan, kami sepakat untuk menghadiahi non kenikmatan surga dunia. Tenang saja non. Kami memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai tubuh non yang indah ini. Dan kalo tentang itu tenang non, kami sudah mempersiapkan semua itu. Seminggu terakhir ini, aqua botol yang non titip ke saya, saya campurin obat anti hamil. Sedangkan yang tadi, saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Non Eliza tadi sakit perut kan? Hahaha jelas Girno sambil tertawa, tertawa yang memuakkan. Jadi ini semua sudah direncanakannya! Kurang ajar betul mereka ini. Aku memberi mereka makanan hanya karena ingin berbagi, tanpa memandang status mereka. Tapi kini balasannya aku harus melayani mereka berlima. Aku akan digangbang mereka, dan mereka akan mengeluarkan sperma mereka di dalam rahimku sepuasnya tanpa kuatir menghamiliku. Lebih tepatnya, tanpa aku kuatir harus hamil oleh mereka. Membayangkan hal ini, entah kenapa tiba tiba aku terangsang hebat, dan birahiku naik tak terkendali.
Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis mereka sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihat penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku, sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku. Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yang putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu. Indah sekali non Eliza, mem*knya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali, puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Semakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara mereka semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatap sayu pada Girno. Pak, pelan pelan pak ya.. aku mencoba mengingatkan Girno, yang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisi siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak akan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.
Kedua payudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh bergantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat aku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejang lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girno yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku. Eh.. non Eliza ini.. belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, mem*k non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya, ejeknya sambil mulai melesakkan penisnya ke vaginaku. Aduh.. sakit pak erangku, dan Girno berkata Tenang non, nanti juga enak. Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dan melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangat melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan penuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitiku.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusukkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambil menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoyok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus menerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sakit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek. Ooooooh aaaauuuugggh hngggkk aaaaaaagh Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air mataku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin meronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang, dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini. Aduh.. sakit pak Girno.. ampun, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas karena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, terus.. terus... Aku menggeleng gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyak bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itu tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anak kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.
Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Girno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Penis itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai meracau, Oh sempitnya non. Enaknya.. ah.. sambil terus memompa penisnya sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat. Mulutku ternganga, kedua tanganku mencengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku terasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan penis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.
Dan setelah diam untuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku mengerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata Isep non. Awas, jangan digigit ya! Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enak ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjang juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapi mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa penisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku berusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kananku, menggengamkan tanganku ke penisnya. Non, ayo dikocok!, perintahnya. Penis itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku tak sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tanganku, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba tiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengerubutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam dalam vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, Apa apaan ini? Apa yang kalian lakukan pada Eliza?. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kulumanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskan saya dari mereka. Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, Kalian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa hahaha. Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbang ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumanku pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tapi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir. Setelah sadar bahwa pak Edy juga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan penisnya pada vaginaku, Girno berkata, Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulu. Tapi kalo soal mem*knya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih. Pak Edy tertawa. Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan? katanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.
Tapi aku sudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yang ke tiga kalinya. aaaaagh.. paaak sayaaa keluaaaar., erangku yang tanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kiriku yang memang menganggur. Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhku terlonjak lonjak, entah ada berapa lamanya tersentak sentak, namun kini cairanku tak keluar karena vaginaku yang masih sangat sempit ini seolah dibuntu oleh penis Girno yang berukuran raksasa. Dalam kelelahan ini, aku harus melayani 6 orang sekaligus. Sodokan sodokan yang dilakukan Girno membuat gairahku cepat naik walaupun aku baru saja orgasme hebat. Tapi aku tak tahu, kapan Girno akan orgasme, ia begitu perkasa. Sudah 15 menit berlalu, dan ia masih memompaku dengan garangnya. Desahan kami bersahut sahutan memenuhi ruangan yang kecil ini. Kedua tanganku mengocok penis dari Soleh dan pak Edy, wali kelasku yang ternyata bejat, membuatku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya mulai senin besok dan seterusnya saat dia mengajar.
Urip mengingatkanku untuk kembali mengulum penisnya yang kembali disodokkannya ke kerongkonganku, membuat aku tak sempat terlalu lama memikirkan hal itu.. Kini aku sudah mulai terbiasa, bahkan sejujurnya mulai menikmati saat saat tenggorokanku diterjang penis si Urip ini. Kepasrahanku ini membuat mereka semua semakin bernafsu. Tiba tiba Girno menarikku hingga aku terduduk, lalu dia tiduran di ranjang, hingga sekarang aku berada dalam posisi woman on top, dan penis itu terasa semakin dalam menancap dalam vaginaku. Aku masih tak tahu apa yang ia inginkan, tiba tiba aku ditariknya lagi hingga rebah dan payudaraku menindih tubuhnya. Urat penisnya terasa mengorek ngorek dinding vaginaku. Eh, daripada satu lubang rame rame, kan lebih nikmat kalo dua, eh, tiga sekalian, tiga lubang rame rame? tanya Girno pada yang lain, yang segera menyetujui sambil tertawa. Akuuur , seru mereka, dan Urip segera ke belakangku, kemudian meludahi anusku. Oh Tuhan aku akan disandwich.. bagaimana ini.., kataku dalam hati. Jangaaaan. Jangan di situuu!! teriakku ketakutan. Namun seperti yang aku duga, Urip sama sekali tidak perduli. Aku memejamkan mata ketika Urip menempelkan kepala penisnya ke anusku, dan yang lain bersorak kegirangan, memuji ide Girno. aaaaaagh erangku ketika penis Urip mulai melesak ke liang anusku. Mataku terbeliak, tanganku menggenggam erat sprei kasur tempat aku aku dibantai ramai ramai, tubuhku terutama pahaku bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa.
Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekali. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang. aaaaaaaaaaaaagh. sakiiiiiit. Jangaaaaan.., erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang dan mulutku ternganga, Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenamkan penisnya dalam mulutku, hingga eranganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku. Begitu panjang, walaupun diameternya tidak terlalu besar, tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Rasa sakit yang hampir tak tertahankan melandaku saat Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penisnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, tapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditambah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, hingga rasanya penisnya seperti menggedor rahimku. Sedikit sakit memang, tapi perlahan rasa sakit pada anusku sudah berkurang banyak, dan ketika rasa sakit itu reda, aku sudah melayang dalam kenikmatan. Hanya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergetar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanpa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang ulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintaku yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno. Tanganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip meremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini. Aku memang pernah bermasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang terdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek tenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, hegh.. hu huoooooooh.., Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang vaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membuat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran darah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.
Oh.. enake rek, mem*k amoy seng sek perawan kata Girno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang sudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang masih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selama hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis. Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi amat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan. Mereka benar benar menepati janji untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukku dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga membuatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujur tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa aku rela melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati. Hah? Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu? pikirku dalam hati. Tapi tak bisa kupungkiri, tadi itu benar benar nikmat, belum pernah aku merasakan yang seperti itu ketika aku bermasturbasi. Lagian, apakah ini masih bisa disebut perkosaan? Selain aku pasrah melayani apa mau mereka, aku juga menikmatinya, bahkan sampai orgasme berkali kali.
Lamunanku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku. Non, kita lanjutin ya, kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menurut saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu untuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini. Ooh aaah., erang Soleh ketika penisnya mulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang lebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan. Ooh.. aduuuuh , erangku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa hangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka memberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali ini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh ini pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali aku disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap. Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkang seperti kodok, dan perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang amat keras ini, membuat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuatku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masing memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, memintaku mengoral penisnya. Dioral sekalian El, daripada nganggur nih, katanya dengan senyum yang memuakkan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutku walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. Jadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Soleh dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi. eeeeeemmmmph., erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutku, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam mulutku, rasanya aneh, asin dan asam. Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh aku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidak ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, Lho pak, kok sudah keluar? Masa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama mem*knya? Seret banget lho pak, kata Soleh, yang disambung tawa yang lain. Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di sebelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringan. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, mengimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anusku. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang oooooooouuuuggghh. , seiring berkedutnya penisnya dalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kini aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada penis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi diameternya itu.. rasanya seimbang dengan punya si Girno. Oh celaka penis itu akan segera menghajar anusku. ooooh oooooogh sakiiiit, erangku ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergantung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.
Dengan pasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuanya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Soleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan. Oooooooohh aaaaaaargh, seolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Soleh di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihkan tuntas seperti punya pak Edy tadi. Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dan lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya tak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku telentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mungkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak ingin penisnya terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.
Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuh nafsu. Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun tampaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku. Girno segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat besar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku. Girno yang sudah terbakar nafsu ini mulai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakan nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelangan tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan dem sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Aku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girno melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno menggeram nggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah melumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebih gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum senang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampur cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia mulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa mampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku. Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang belum terpuaskan dalam sesi ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu mulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pak Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam saja, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke wc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku. Sambil keluar Urip berkata, nanti kasihan non Eliza, kalo mem*knya yang bersih jadi kotor kalo kont*lku tidak aku cuci. iya, juga, kan kasihan, amoy cakep cakep gini harus ngemut ****** yang kotor seperti ini, sambung Yoyok. Oh.. ternyata mereka begitu pengertian padaku. Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap tusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 menit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka berdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusan. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.
Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentar pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus. Sebentar bapak bapak, saya mau minum dulu ya, kataku. Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapi aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini. Pak Girno. Itu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lagi ya pak, kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku. Tapi Girno berkata, Gak usah non. Saya belikan saja. Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembali dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menunggu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainya. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang segelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus. Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini lagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?. Girno dengan tersenyum menjawab, nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pingin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non. Yah.. pokoknya bukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.
Kemudian aku kembali ke ranjang, menuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringat kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok memintaku mengoral penisnya. Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme mereka bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan membuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkan aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme. Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah semakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu birahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pada sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nafsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah selesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih. Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan pahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memandangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya cengengesan sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oleh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikan seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu sekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang asalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin memperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.
Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu saja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya, kata Girno. Aku tak terlalu terkejut mendengar hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, maksud bapak?. Non tentu sudah mengerti, kami masih inginkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelum hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti hari ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non harus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy? jelas Girno panjang lebar. Pak Edy mengiyakan dan berkata, benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya cari cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kamu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Oh Tuhan.. di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini Dan aku tak bisa menolak sama sekali.. Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, roti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada yang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.
Sampai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman rumah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Roti ini benar benar mengganggu sejak aku menyetir tadi. Rasa nikmat terus mendera vaginaku tak henti hentinya, karena setiap kaki kiriku menginjak kopling, roti ini rasanya tertanam makin dalam. Kini hal yang sama juga terjadi setiap aku melangkahkan kakiku agak lebar. Rasanya kamarku begitu jauh, apalagi aku harus naik tangga, kamarku memang ada di lantai 2. Akhirnya aku sampai ke kamarku. Di sana aku buka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkena campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertinggal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajah puas orang orang yang tadi menggangbang aku.
Bersambung..................
Aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak obat. Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan rasa sakit perutku. Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini. Aku yang sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini. dan belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya. Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma eeemph eeemph. Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas. Namun apa arti tenaga seorang gadis yang mungil sepertiku menghadapi seorang lelaki yang tinggi besar seperti Hadi ini? Aku sungguh merasa tak berdaya.Halo non Eliza kok masih ada di sekolah malam malam begini? tanya Hadi dengan menjemukan. Mataku terbelalak ketika masuk lagi tukang sapu yang lain yang bernama bernama Yoyok. Girnooo, ia melongok keluar pintu dan berteriak memanggil satpam di sekolahku. Aku sempat merasa lega, kukira aku akan selamat dari cengkeraman Hadi, tapi ternyata Yoyok yang mendekati kami bukannya menolongku, malah memegang pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mulai meremasi payudaraku. Wah baru kali ini ada kesempatan pegang susu amoy.. ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had? tanya Yoyok pada Hadi, yang menjawab iya Yok, amoy tercantik di sekolah ini. Betul gak? tanya Hadi. Sambil tertawa Yoyok meremas payudaraku makin keras. Aku menggeliat kesakitan dan terus meronta berusaha melepaskan diri sambil berharap semoga Girno yang sering kuberi tips untuk mengantrikan aku bakso kesukaanku tiap istirahat sekolah, tidak setega mereka berdua yang sudah seperti kerasukan iblis ini. Tapi aku langsung sadar aku dalam bahaya besar. Yang memanggil Girno tadi itu kan Yoyok. Jadi sungguh bodoh bila aku berharap banyak pada Girno yang kalau tidak salah memang pernah aku temukan sedang mencuri pandang padaku. Ataukah ?
Beberapa saat kemudian Girno datang, dan melihatku diperlakukan seperti itu, Girno menyeringai dan berkata, Dengar! Kalian jangan gegabah.. non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam 8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong, dan itu saatnya kita berpesta kawan kawan!. Maka lemaslah tubuhku setelah dugaanku terbukti, dan dengan mudah mereka membaringkan tubuhku di atas ranjang UKS. Kedua tangan dan kakiku diikat erat pada sudut sudut ranjang itu, dan dua kancing bajuku yang belum lepas dilepaskan oleh Hadi, hingga terlihat kulit tubuhku yang putih mulus, serta bra warna pink yang menutupi payudaraku. Aku mulai putus asa dan memohon Pak Girno.. tolong jangan begini pak... Ratapanku ini dibalas ciuman Girno pada bibirku. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu, sampai aku megap megap kehabisan nafas, lalu ia menyumpal mulutku supaya aku tak bisa berteriak minta tolong. Non Eliza, tenang saja. Nanti juga non bakalan merasakan surga dunia kok, kata Girno sambil tersenyum memuakkan. Kemudian Girno memerintahkan mereka semua untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dan mereka meninggalkanku sendirian di ruang UKS sialan ini. Girno kembali ke posnya, Hadi dan Yoyok meneruskan pekerjaannya menyapu beberapa ruangan kelas yang belum disapu. Dan aku kini hanya bisa pasrah menunggu nasib.
Aku bergidik membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Dari berbagai macam cerita kejahatan yang aku dengar, aku mengerti mereka pasti akan memperkosaku ramai ramai. Sakit perutku sudah hilang berkat khasiat minyak putih tadi. Detik demi detik berlalu begitu cepat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jam di ruang UKS sudah menunjukkan pukul 20:00. tibalah saatnya aku dibantai oleh mereka. Hadi masuk, diikuti Yoyok, Girno, dan celakanya ternyata mereka mengajak 2 satpam yang lain, Urip dan Soleh. Hai amoy cantik.. sudah nggak sabar menunggu kami ya?, kata Hadi. Dengan mulut yang tersumpal sementara tangan dan kakiku terikat, aku hanya bisa menggeleng nggelengkan kepala, dengan air mata yang mengalir deras aku memandang mereka memohon belas kasihan, walaupun aku tahu pasti hal ini tak ada gunanya. Mereka hanya tertawa dan dengan santai melepaskan baju seragam sekolahku, hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam yang warnanya pink. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan mulai menggerayangi tubuhku, tanpa aku bisa melawan sama sekali. Aku masih sempat memperhatikan, betapa kulit mereka itu hitam legam dan kasar dibandingkan kulitku yang putih mulus, membuatku sedikit banyak merasa jijik juga ketika memikirkan tubuhku dikerubuti mereka, untuk kemudian digangbang tanpa ampun..
Aku terus meronta, tapi tiba tiba perasaanku tersengat ketika jari-jari Girno menyentuh selangkanganku, menekan nekan klitorisku yang masih terbungkus celana dalam. Aku tak tau sejak kapan, tapi bra yang aku pakai sudah lenyap entah kemana, dan payudaraku diremas remas dengan brutal oleh Hadi dan Yoyok, membuat tubuhku panas dingin tak karuan. Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, Urip mendekatiku, melepas sumpalan pada mulutku, dan melumat bibirku habis habisan. Ya ampun.. aku semakin gelagapan, apalagi kemudian Soleh meraba dan membelai kedua pahaku. Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa oleh 5 orang sekaligus, aku merasakan gejolak luar biasa melanda tubuhku yang tanpa bisa kukendalikan, berkelojotan dan mengejang hebat, berulang kali aku terlonjak lonjak, ada beberapa saat lamanya tubuhku tersentak sentak, kakiku melejang lejang, rasanya seluruh tubuhku bergetar. oh.. oh augh.. ngggg.. aaaaaaagh aku mengerang dan menjerit keenakan dan keringatku membanjir deras. Lalu aku merasa kelelahan dan lemas sekali, dan mereka menertawakanku yang sedang dilanda orgasme hebat. Enak ya non? Hahaha nanti Non pasti minta tambah. Aku tak melihat siapa yang bicara, tapi aku tahu itu suara Yoyok, dan aku malas menanggapi ucapan yang amat kurang ajar dan merendahkanku itu.
Kemudian Girno berkata padaku, Non Eliza, kami akan melepaskan ikatanmu. Jika nona tidak macam macam, kami akan melepaskan nona setelah kami puas. Tapi jika nona macam macam, nona akan kami bawa ke rumah kosong di sebelah mess kami. Dan nona tahu kan apa akibatnya? Di situ nona tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh penghuni mess kami. Mengerti ya non?. Mendengar hal itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, dan berharap aku cukup kuat untuk melalui ini semu. Iya pak. Jangan bawa saya ke sana pak. Saya akan menuruti kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar. Tolong jangan keluarkan di dalam ya? pintaku sungguh sungguh, dan merasa ngeri jika aku harus dibawa ke mess mereka. Aku tahu penghuni mess itu ada sekitar 60 orang, yang merupakan gabungan satpam, tukang sapu dan tukang kebun dari SMA tempat aku sekolah ini, ditambah dari SMP dan SD yang memang masih sekomplek, maklum satu yayasan. Daripada aku lebih menderita digangbang oleh 60 orang, lebih baik aku menuruti apa mau mereka yang cuma berlima ini. Dan aku benar benar berharap agar tak ada yang melukaiku, berharap mereka tidak segila itu untuk menindik tubuhku, trend yang kudengar sering dilakukan oleh pemerkosanya menindik puting susu korbannya. Aku benar benar takut.
Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona yang sexy, dan selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini sejak non masih kelas 1 SMA. Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke 17 dan merayakannya di kelas, bahkan memberi kami makanan, kami sepakat untuk menghadiahi non kenikmatan surga dunia. Tenang saja non. Kami memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai tubuh non yang indah ini. Dan kalo tentang itu tenang non, kami sudah mempersiapkan semua itu. Seminggu terakhir ini, aqua botol yang non titip ke saya, saya campurin obat anti hamil. Sedangkan yang tadi, saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Non Eliza tadi sakit perut kan? Hahaha jelas Girno sambil tertawa, tertawa yang memuakkan. Jadi ini semua sudah direncanakannya! Kurang ajar betul mereka ini. Aku memberi mereka makanan hanya karena ingin berbagi, tanpa memandang status mereka. Tapi kini balasannya aku harus melayani mereka berlima. Aku akan digangbang mereka, dan mereka akan mengeluarkan sperma mereka di dalam rahimku sepuasnya tanpa kuatir menghamiliku. Lebih tepatnya, tanpa aku kuatir harus hamil oleh mereka. Membayangkan hal ini, entah kenapa tiba tiba aku terangsang hebat, dan birahiku naik tak terkendali.
Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis mereka sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihat penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku, sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku. Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yang putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu. Indah sekali non Eliza, mem*knya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali, puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Semakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara mereka semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatap sayu pada Girno. Pak, pelan pelan pak ya.. aku mencoba mengingatkan Girno, yang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisi siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak akan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.
Kedua payudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh bergantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat aku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejang lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girno yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku. Eh.. non Eliza ini.. belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, mem*k non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya, ejeknya sambil mulai melesakkan penisnya ke vaginaku. Aduh.. sakit pak erangku, dan Girno berkata Tenang non, nanti juga enak. Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dan melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangat melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan penuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitiku.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusukkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambil menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoyok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus menerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sakit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek. Ooooooh aaaauuuugggh hngggkk aaaaaaagh Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air mataku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin meronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang, dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini. Aduh.. sakit pak Girno.. ampun, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas karena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, terus.. terus... Aku menggeleng gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyak bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itu tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anak kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.
Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Girno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Penis itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai meracau, Oh sempitnya non. Enaknya.. ah.. sambil terus memompa penisnya sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat. Mulutku ternganga, kedua tanganku mencengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku terasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan penis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.
Dan setelah diam untuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku mengerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata Isep non. Awas, jangan digigit ya! Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enak ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjang juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapi mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa penisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku berusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kananku, menggengamkan tanganku ke penisnya. Non, ayo dikocok!, perintahnya. Penis itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku tak sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tanganku, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba tiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengerubutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam dalam vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, Apa apaan ini? Apa yang kalian lakukan pada Eliza?. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kulumanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskan saya dari mereka. Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, Kalian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa hahaha. Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbang ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumanku pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tapi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir. Setelah sadar bahwa pak Edy juga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan penisnya pada vaginaku, Girno berkata, Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulu. Tapi kalo soal mem*knya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih. Pak Edy tertawa. Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan? katanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.
Tapi aku sudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yang ke tiga kalinya. aaaaagh.. paaak sayaaa keluaaaar., erangku yang tanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kiriku yang memang menganggur. Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhku terlonjak lonjak, entah ada berapa lamanya tersentak sentak, namun kini cairanku tak keluar karena vaginaku yang masih sangat sempit ini seolah dibuntu oleh penis Girno yang berukuran raksasa. Dalam kelelahan ini, aku harus melayani 6 orang sekaligus. Sodokan sodokan yang dilakukan Girno membuat gairahku cepat naik walaupun aku baru saja orgasme hebat. Tapi aku tak tahu, kapan Girno akan orgasme, ia begitu perkasa. Sudah 15 menit berlalu, dan ia masih memompaku dengan garangnya. Desahan kami bersahut sahutan memenuhi ruangan yang kecil ini. Kedua tanganku mengocok penis dari Soleh dan pak Edy, wali kelasku yang ternyata bejat, membuatku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya mulai senin besok dan seterusnya saat dia mengajar.
Urip mengingatkanku untuk kembali mengulum penisnya yang kembali disodokkannya ke kerongkonganku, membuat aku tak sempat terlalu lama memikirkan hal itu.. Kini aku sudah mulai terbiasa, bahkan sejujurnya mulai menikmati saat saat tenggorokanku diterjang penis si Urip ini. Kepasrahanku ini membuat mereka semua semakin bernafsu. Tiba tiba Girno menarikku hingga aku terduduk, lalu dia tiduran di ranjang, hingga sekarang aku berada dalam posisi woman on top, dan penis itu terasa semakin dalam menancap dalam vaginaku. Aku masih tak tahu apa yang ia inginkan, tiba tiba aku ditariknya lagi hingga rebah dan payudaraku menindih tubuhnya. Urat penisnya terasa mengorek ngorek dinding vaginaku. Eh, daripada satu lubang rame rame, kan lebih nikmat kalo dua, eh, tiga sekalian, tiga lubang rame rame? tanya Girno pada yang lain, yang segera menyetujui sambil tertawa. Akuuur , seru mereka, dan Urip segera ke belakangku, kemudian meludahi anusku. Oh Tuhan aku akan disandwich.. bagaimana ini.., kataku dalam hati. Jangaaaan. Jangan di situuu!! teriakku ketakutan. Namun seperti yang aku duga, Urip sama sekali tidak perduli. Aku memejamkan mata ketika Urip menempelkan kepala penisnya ke anusku, dan yang lain bersorak kegirangan, memuji ide Girno. aaaaaagh erangku ketika penis Urip mulai melesak ke liang anusku. Mataku terbeliak, tanganku menggenggam erat sprei kasur tempat aku aku dibantai ramai ramai, tubuhku terutama pahaku bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa.
Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekali. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang. aaaaaaaaaaaaagh. sakiiiiiit. Jangaaaaan.., erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang dan mulutku ternganga, Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenamkan penisnya dalam mulutku, hingga eranganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku. Begitu panjang, walaupun diameternya tidak terlalu besar, tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Rasa sakit yang hampir tak tertahankan melandaku saat Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penisnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, tapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditambah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, hingga rasanya penisnya seperti menggedor rahimku. Sedikit sakit memang, tapi perlahan rasa sakit pada anusku sudah berkurang banyak, dan ketika rasa sakit itu reda, aku sudah melayang dalam kenikmatan. Hanya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergetar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanpa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang ulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintaku yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno. Tanganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip meremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini. Aku memang pernah bermasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang terdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek tenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, hegh.. hu huoooooooh.., Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang vaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membuat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran darah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.
Oh.. enake rek, mem*k amoy seng sek perawan kata Girno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang sudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang masih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selama hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis. Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi amat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan. Mereka benar benar menepati janji untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukku dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga membuatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujur tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa aku rela melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati. Hah? Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu? pikirku dalam hati. Tapi tak bisa kupungkiri, tadi itu benar benar nikmat, belum pernah aku merasakan yang seperti itu ketika aku bermasturbasi. Lagian, apakah ini masih bisa disebut perkosaan? Selain aku pasrah melayani apa mau mereka, aku juga menikmatinya, bahkan sampai orgasme berkali kali.
Lamunanku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku. Non, kita lanjutin ya, kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menurut saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu untuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini. Ooh aaah., erang Soleh ketika penisnya mulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang lebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan. Ooh.. aduuuuh , erangku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa hangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka memberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali ini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh ini pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali aku disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap. Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkang seperti kodok, dan perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang amat keras ini, membuat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuatku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masing memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, memintaku mengoral penisnya. Dioral sekalian El, daripada nganggur nih, katanya dengan senyum yang memuakkan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutku walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. Jadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Soleh dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi. eeeeeemmmmph., erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutku, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam mulutku, rasanya aneh, asin dan asam. Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh aku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidak ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, Lho pak, kok sudah keluar? Masa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama mem*knya? Seret banget lho pak, kata Soleh, yang disambung tawa yang lain. Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di sebelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringan. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, mengimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anusku. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang oooooooouuuuggghh. , seiring berkedutnya penisnya dalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kini aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada penis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi diameternya itu.. rasanya seimbang dengan punya si Girno. Oh celaka penis itu akan segera menghajar anusku. ooooh oooooogh sakiiiit, erangku ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergantung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.
Dengan pasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuanya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Soleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan. Oooooooohh aaaaaaargh, seolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Soleh di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihkan tuntas seperti punya pak Edy tadi. Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dan lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya tak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku telentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mungkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak ingin penisnya terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.
Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuh nafsu. Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun tampaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku. Girno segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat besar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku. Girno yang sudah terbakar nafsu ini mulai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakan nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelangan tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan dem sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Aku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girno melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno menggeram nggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah melumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebih gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum senang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampur cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia mulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa mampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku. Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang belum terpuaskan dalam sesi ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu mulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pak Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam saja, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke wc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku. Sambil keluar Urip berkata, nanti kasihan non Eliza, kalo mem*knya yang bersih jadi kotor kalo kont*lku tidak aku cuci. iya, juga, kan kasihan, amoy cakep cakep gini harus ngemut ****** yang kotor seperti ini, sambung Yoyok. Oh.. ternyata mereka begitu pengertian padaku. Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap tusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 menit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka berdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusan. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.
Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentar pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus. Sebentar bapak bapak, saya mau minum dulu ya, kataku. Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapi aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini. Pak Girno. Itu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lagi ya pak, kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku. Tapi Girno berkata, Gak usah non. Saya belikan saja. Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembali dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menunggu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainya. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang segelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus. Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini lagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?. Girno dengan tersenyum menjawab, nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pingin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non. Yah.. pokoknya bukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.
Kemudian aku kembali ke ranjang, menuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringat kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok memintaku mengoral penisnya. Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme mereka bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan membuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkan aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme. Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah semakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu birahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pada sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nafsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah selesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih. Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan pahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memandangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya cengengesan sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oleh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikan seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu sekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang asalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin memperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.
Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu saja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya, kata Girno. Aku tak terlalu terkejut mendengar hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, maksud bapak?. Non tentu sudah mengerti, kami masih inginkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelum hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti hari ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non harus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy? jelas Girno panjang lebar. Pak Edy mengiyakan dan berkata, benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya cari cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kamu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Oh Tuhan.. di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini Dan aku tak bisa menolak sama sekali.. Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, roti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada yang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.
Sampai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman rumah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Roti ini benar benar mengganggu sejak aku menyetir tadi. Rasa nikmat terus mendera vaginaku tak henti hentinya, karena setiap kaki kiriku menginjak kopling, roti ini rasanya tertanam makin dalam. Kini hal yang sama juga terjadi setiap aku melangkahkan kakiku agak lebar. Rasanya kamarku begitu jauh, apalagi aku harus naik tangga, kamarku memang ada di lantai 2. Akhirnya aku sampai ke kamarku. Di sana aku buka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkena campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertinggal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajah puas orang orang yang tadi menggangbang aku.
Bersambung..................
Subscribe to:
Posts (Atom)