Tuesday, 27 December 2011

Hidup Tapi Mati, Seperti Vampir

 

Zona Malam - Entah sudah berapa kali aku membaca novel ini sejak seluruh dunia santer menjadikannya bahan obrolan di berbagai media cetak maupun elektronik. Bahkan, dunia perfilman pun memutarkan sekuel di setiap judul serinya. Yah, vampir fenomenal ciptaan Stephenie Meyer dalam bukunya ini memang mampu melahirkan jutaan inspirasi di benak masyarakat dunia. Vampir yang tidak pernah tidur dan memiliki keistimewaan tersendiri perihal kehidupannya yang tidak mungkin bisa dimiliki manusia pada umumnya: hidup abadi.

Kendati demikian, vampir sendiri pun dulunya juga manusia biasa. Manusia yang telah mati dan hidup kembali menjadi sosok yang bukan manusia - hanya perawakannya saja yang mirip dengan manusia. Vampir selalu haus akan darah, melakukan perburuan di malam hari, dan terkadang sebisa mungkin menghindari sinar matahari yang menyilaukan mata mereka atau sinar matahari akan membakar tubuh mereka hingga menjadi abu - dimana ketiga hal itu sama sekali bukan sifat alami manusia.

Namun, mengapa kehidupan seperti itu yang diinginkan manusia? Kupikir, manusia hanya mengejar kesenangan duniawi, sehingga tidak peduli mau jadi apa mereka nanti jika diberikan kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya - dan, sekali lagi mencicipi indahnya dunia tempat mereka berpijak dulu.

Kalau ditanya, apakah aku mau menjadi vampir? Jawabanku, pasti mau. Hidup, tapi mati, sebagai sesosok makhluk yang bukan manusia dan juga bukan hantu. Kehidupan abadi yang tidak pernah merasakan bertambahnya usia dan tidak pernah menjadi tua. Hanya saja, pertanyaannya adalah: apakah vampir - yang notabene-nya bukan manusia dan juga bukan hantu - masih memiliki perasaan cinta layaknya manusia? atau, apakah vampir yang berwujud manusia itu bisa mengingat semua hal yang terjadi padanya semasa hidup dulu?

Jika jawabannya "ya", maka aku tak ragu untuk mengubah jiwa manusiaku menjadi sesosok vampir, dan mungkin aku akan segera menyodorkan leherku seraya berkata, 'ayo, gigit aku sekarang'. Tapi, jika jawabannya "tidak", aku harus berpikir ribuan kali untuk mengubah jiwaku dari fana ke abadi dan hidup bagai makhluk pengisap darah bernama "vampir" - apabila, tentu saja, eksistensi jiwa sang vampir tak lagi dipertanyakan di jaman yang sedemikian modern.


DI LIKE YA GAN

No comments:

Post a Comment